Aparatur Sipil tuhaN

Dalam skala 1-10, kalau saya menilai kepuasan atas kinerja PNS, saya memberi skor 5,5. Yang membuat skor jadi 5,5 ialah proses perpindahan data kependudukan saya dari ibu kota ke daerah istimewa mantan ibu kota: tak ada pungutan dan cepat sekali, sangat memuaskan, meskipun alat digitalnya ada yang rusak. Loh, sangat memuaskan kok cuma 5,5? Ya, berarti pengalaman lainnya kurang dari 5,5 dong. Andai saja kinerja PNS sejak reformasi itu bernilai tujuh saja, barangkali tak dibutuhkan sosok Jokowi untuk membangun infrastruktur atau membongkar jaringan Petral atau merebut Freeport atau membangun bendungan dan sebagainya.

Romo kok negatif begitu sih terhadap PNS?
Memang!
Tak banyak PNS yang saya jumpai sebagai warga yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan bangsa ini. Saya jujur terhadap perasaan saya. Kalau PNS itu semuanya adalah warga negara yang berprinsip “Apa yang bisa kuberikan bagi bangsaku” alih-alih “Apa yang bisa kuperoleh dari bangsaku”, percayalah, sudah sejak zaman Orde Baru negeri ini jaya di laut darat dan udara karena tak butuh obat anti mabok. Prinsip tikus-tikus mabok negara inilah yang bikin NKRI selama sekian lama jadi ‘terbelakang’, belum lagi ditambah mereka yang keblinger konsep agama, jadi tak karuanlah negeri ini.

Sejak empat tahun lalu, dipopulerkan istilah ASN yang mencakup PNS dan PPPK. PNS inilah yang dibayar sampai kiamat oleh negara. Artinya, rakyatlah yang membayarnya. Sebagai ASN, baik PNS maupun PPPK mestinya pertama-tama memikirkan kewajibannya bagi NKRI. Kalau di kepala ASN komposisi hak lebih besar dari kewajibannya, jadilah aneka macam korupsi, gabutisme, dan sejenisnya.

Hari ini Gereja Katolik memestakan salah seorang ASN yang bernama Andreas. Dia bukan pemuka agama, bukan kaum religius, bukan pastor, pendeta, ulama, uskup, kardinal. Nelayan, orang biasa saja, bukan capres pula. Dalam teks bacaan hari ini tak tampak perannya karena ia cuma dipanggil Guru dari Nazareth untuk ikut halan-halan. Akan tetapi, bisa saya bayangkan bahwa sebetulnya Andreas ini jadi perantara Guru itu dengan orang-orang lainnya. Saya ingat kisah Andreas yang berhadapan dengan ribuan orang kelaparan dan dialah yang melihat bahwa di tengah-tengah kerumunan itu ada anak yang memiliki lima roti dan dua ikan. Andreas jadi asisten: mengantar Guru pada anak ini atau bisa juga mengantar anak ini pada Guru sebelum mukjizat yang berurusan dengan perut itu terjadi.

Andai saja ASN itu adalah Aparatur Sipil Negara sekaligus Aparatur Sipil tuhaN… betapa mulianya hidup ini. Celakanya, bisa jadi malah ASN cuma mengantar orang pada agama, dan tak sampai mengantar orang pada Tuhan; tak membiarkan orang kembali pada hati nurani dan takut pada suara keras yang belum tentu bernas.
Sedih saya melihat tayangan ulama karbitan berkoar-koar. Sebagian yang dikoarkannya bisa jadi benar, tetapi menilik nuansanya yang sangat ofensif terhadap sosok presiden (yang bukan diktator, bukan monster), kalaupun bahasanya ‘cuma’ metafora, kontekslah yang menentukan makna kata-katanya yang sangat agitatif. Entah bagaimana ASN melihat hal seperti itu.

Tuhan, mohon rahmat kekuatan supaya kami sanggup mengantarkan semakin banyak orang untuk sungguh berjumpa dengan-Mu. Amin.


PESTA S. ANDREAS RASUL
(Jumat Biasa XXXIV B/2)
30 November 2018

Rm 10,9-18
Mat 4,18-22

Posting 2017: Takut Bangkit, Takut Jatuh
Posting 2016: Rujuk Nasional, Ehm…
 

Posting 2015: Saudara Seiman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s