Tiba-tiba Siap-siap

Yang menurut manusia mendadak, barangkali sebenarnya merupakan suatu perjalanan panjang. Begitu pesan yang saya peroleh ketika tadi malam saya melayat budhe seorang teman masa kecil saya. Yang menyampaikan catatan itu adalah anaknya sendiri, yang tentu sudah melihat aneka peristiwa dan pengalaman bersama ibunya. Catatan itu mengiang kembali ketika saya membaca teks hari ini, yang saya baca sekurang-kurangnya setahun sekali: Jagalah dirimu supaya….hari Tuhan jangan secara tiba-tiba jatuh ke atas dirimu sebagai suatu jerat.

Bacaan seminggu ini memang banyak menyinggung zaman akhir, seturut kalender liturgi Gereja Katolik yang besok mulai masuk lingkaran tahun baru C/1, dan semakin lama semakin jelas bahwa zaman akhir itu tak perlu lagi dimengerti secara kronologis kelak entah kapan. Zaman akhir adalah sekarang ini dan di sini dan orang perlu menjaga diri supaya zaman akhir itu jangan secara tiba-tiba jatuh ke atas dirinya sebagai suatu jerat.

Mari kita lihat dari perspektif yang lebih luas. Kemarin, kalau tak salah ingat, maklum saya sudah tua, saya merasakan gempa, yang secara subjektif selalu saya asosiasikan dengan pengalaman gempat 2006 dulu. Tak ada instansi pemerintah yang mengingatkan saya akan kedatangan gempa. Datangnya begitu tiba-tiba, bisa sewaktu Anda tidur, sewaktu mandi, di jalan, atau di atas pohon. Akan tetapi, apakah gempa itu sendiri terjadi tiba-tiba? Tentu tidak. Ada kesenjangan antara sensasi yang Anda peroleh dari tubuh fisik dan seluruh proses yang memunculkan fenomena yang Anda tangkap itu. Konkretnya, Anda tidak merasakan bagaimana lempeng bumi mulai bergeser, bagaimana rasanya digencet sekian kilometer kubik air dari atas dan dari bawah dipanas-panasi inti bumi yang membara (katanya); yang Anda rasakan hanyalah sebagian kecil dari stress yang dialami bumi itu. Yang sebagian kecil itu sudah ditangkap sebagai sesuatu yang datangnya tiba-tiba.

Kata sepupu teman kecil saya ini, meskipun mungkin meninggal untimely (dan ‘memaksa’-nya pulang dari mancanegara), ibunya sudah mempersiapkannya baik-baik sejak lama. Apa persiapannya? Bukan maksudnya sombong: doa.
Percaya atau tidak, doa yang sesungguhnya itu senantiasa membuat orang kontak dengan dunia sini dan dunia sana. Jangan salah, ini bukan cenayang. Ini soal orang menghubungkan dimensi sosialnya dengan hidup batin, hidup kedalaman dirinya. Maka dari itu saya merekomendasikan doa nafas sebagai doa sederhana yang memungkinkan orang connect dengan tubuhnya sendiri (dan dengan demikian segala koneksinya dengan dimensi sosial: kemarahan terhadap tetangga, kejengkelan terhadap FZ, FH, HR, AR, AB, BG, DD, atau BH, bergantung lokasi Anda, cinta kepada BTP, JKW, WIL, PIL, dan sebagainya) sekaligus sambung dengan pewahyuan Allah yang diperolehnya dari Kitab Suci atau pribadi nan suci.

Dalam kesadaran macam begini, hari Tuhan, akhir zaman, kiamat, atau apa pun istilahnya, tidak akan dialami sebagai jerat, melainkan rahmat. Semoga juga di tahun politik ini, orang beriman semakin disadarkan untuk mewujudkan imannya bukan karena duit, reuni, atau kampanye agitatif atau hitam, melainkan karena iman mesti menyatakan hari Tuhan sebagai pembebasan diri dari perangkap manipulatif mereka yang berebut kekuasaan. Amin.


HARI SABTU BIASA XXXIV
Peringatan Wajib B. Dionisius dan Redemptus
1 Desember 2018

Why 22,1-7
Luk 21,34-36

Sabtu Biasa XXXIV A/1 2017: Doa Maksimal
Sabtu Biasa XXXIV C/2 2016: Jatuh Lebay
Sabtu Biasa XXXIV B/1 2015: Doa demi Babi

Sabtu Biasa XXXIV A/2 2014: Jangan Takut Mencinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s