Doa Maksimal

Ini kata teman saya: satan’s target is your mind, satan’s weapon is lies, and satan’s purpose is to make you ignorant of God’s will. Berhubung pikiran itu bisa buruk bisa baik, bahkan pikiran baik pun bisa jadi sasaran setan, karena tujuan setan tadi kan jelas menjauhkan orang dari kehendak ilahi itu. Jadi, meskipun orang punya niat dan pikiran yang baik, tidak ada jaminan bahwa orang itu akan sampai pada tujuan bersekutu dengan kehendak ilahi itu. Bisa jadi karena orang merasa niat dan pikirannya sudah baik, pikirannya ditunggangi syaiton dan jadilah dia tersesat.

Gagasan demokrasi, keadilan, kemanusiaan, hak azasi manusia, martabat manusia, bela rasa, perdamaian, dan sebagainya, bukankah ide-ide itu mulia? Membahagiakan warga, membangun masyarakat (dan bukan cuma infrastruktur), bukankah itu juga ide baik? Membaca Kitab Suci, bahkan menghafalkannya, bukankah itu juga mulia? Betul. Akan tetapi, sekali lagi, karena Tuhan ada di mana-mana, begitu juga setan ada di mana-mana, bahkan dalam pikiran yang baik itu tadi. Maka, seturut bacaan hari ini, diperlukan kewaspadaan juga dalam memelihara pikiran-pikiran yang baik. Gimana caranya?

Adalah Muhammad Shahrur, pemikir Muslim yang begitu progresif pada abad lalu yang membuka mata banyak orang untuk kritis dalam hidup beriman. Jelaslah baginya bahwa Sabda Allah itu mutlak, tetapi interpretasi terhadapnya terikat pada kondisi historis manusia. Shahrur menyodorkan theory of limits yang memberi ruang besar bagi kebebasan manusia juga dalam menjalankan hukum agama: batas minimum dan batas maksimum. Misalnya, hukum potong tangan pencuri bisa populer pada zaman tertentu, tetapi pada zaman lainnya bisa jadi tidak cocok lagi. Itu jadi batas maksimum, sehingga zaman lain tidak harus mengikutinya. Apa kriterianya untuk menentukan hukuman antara batas minimum dan maksimum itu?

Yang saya tangkap: rasionalitas zaman yang autentik, yang membawa manusia pada kesejatian hidup di hadapan Allah. Beda bahasan, tapi mungkin berguna untuk pemahaman. Ketika orang membaca kisah Nabi Nuh, yang mengumpulkan berbagai makhluk di seluruh dunia supaya selamat dari air bah, ia perlu sadar bahwa ‘seluruh dunia’ pada zaman Nabi Nuh berbeda dari ‘seluruh dunia’ zaman sekarang. Sekarang orang mengimajinasikan dunia (bumi) bulat. Tentu konsekuensinya berbeda. ‘Seluruh dunia’-nya tetap, tetapi konteksnya sudah berbeda. Sabda Allah tetap, tetapi operasionalitasnya bergantung pada rasionalitas manusia. Shahrur sangat kukuh pada persekongkolan iman dan rasio. Kalau orang tak lagi menghormati rasio, imannya mbelgedhes, dan sebaliknya, kalau orang tak lagi memedulikan imannya, rasionya keblinger.

Kalau begitu, kembali ke pesan bacaan hari ini, supaya pikiran baik tak tersusupi syaiton, orang perlu doa. Doa ini yang membuka matanya supaya terorientasi pada kehendak ilahi sendiri. Bahkan, doa ini yang menjaga pikiran orang supaya tetap terbuka pada kritik yang nalar, yang sehat; tidak waton main klaim bener sendiri, yang jadi makanan nikmat untuk syaiton. Doa maksimal meleluasakan rasio berkembang demi makhluk Allah yang pantas dimuliakan.

Ya Allah, mohon rahmat kesetiaan untuk menjaga rasionalitas kami dengan doa kepasrahan kepada kehendak-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXXIV B/1
Peringatan Wajib S. Edmund Campion dkk
2 Desember 2017

Dan 7,15-27
Luk 21,34-36

Sabtu Biasa XXXIV C/2 2016: Jatuh Lebay
Sabtu Biasa XXXIV B/1 2015: Doa demi Babi 

Sabtu Biasa XXXIV A/2 2014: Jangan Takut Mencinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s