Doa demi Babi

Ini adegan berbahaya. Jangan menirunya!
Selepas SMP dulu, saya masuk SMA yang memulai jenjangnya dari kelas nol dan semua muridnya harus tinggal di asrama. Nah, di asrama itu, menu andalannya adalah lauk babi goreng tanpa macam-macam tambahan entah kecap, rica-rica, atau (bantal) guling. Pokoknya hanya digoreng. Menu itu cuma muncul dua kali makan siang dalam seminggu.

Penyajiannya sangat sederhana. Di setiap meja sudah ditata piring untuk masing-masing siswa, satu ceting nasi dan satu piring oval besar tempat babi goreng tadi. Baik ceting nasi maupun tempat babi goreng serta sayur itu punya tutupnya sendiri-sendiri. Penampakan mengerikan tampak ketika tutup piring babi goreng itu dibuka setelah doa makan bersama selesai: hampir pada setiap potong daging tertancap bilah logam silver berkilauan pipih sepanjang 10-15 cm. Bilih logam itu bernama garpu, yang ternyata ditancapkan oleh pemiliknya sebelum mulai doa makan. Yang biasanya tak ditancapi garpu hanyalah babi yang lebih banyak gajihnya karena doa tidak mengubah gajih babi itu jadi daging dengan pengantaraan garpu.

Pesan Injil hari ini menutup wacana apokaliptik dengan dua nasihat yang sangat jelas: jangan sampai umat beriman kehilangan kesadaran kritis dan hendaklah umat beriman senantiasa berdoa. Orang bisa saja punya kesadaran kritis tanpa berdoa, tetapi kesadarannya itu semata berada pada level kognitif yang tak cukup kuat untuk membawa perubahan hidup. Sebaliknya, orang alim bisa saja senantiasa berdoa tetapi tak punya kesadaran kritis jika doanya semata merupakan kompulsi, tindakan wajib tanpa kontak dengan kenyataan hidup sesungguhnya.

Umat beriman mesti menemukan koneksi antara kesadaran kritis dan doanya. Tentu ini bukan semata demi mendapatkan babi yang lebih banyak dagingnya daripada gajihnya tadi, melainkan supaya yang satu menyokong yang lainnya. Doa yang benar merasuk ke dalam hati yang aware akan kehadiran Allah dan dengan demikian menerangi dan menguatkan orang beriman dengan kesadaran kritisnya untuk bertahan dalam masa sulit dan bertumbuh dalam harapan.

Ya Tuhan, mohon rahmat kejernihan budi dengan tumpuan pada Sabda-Mu sendiri . Amin.


HARI SABTU BIASA XXXIV B/1
28 November 2015

Dan 7,15-27
Luk 21,34-36

Posting Tahun Lalu: Jangan Takut Mencinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s