Agama Skizofrenik

Skizofrenia biasanya diberikan sebagai atribut kepada seseorang yang memiliki disfungsi mental sedemikian rupa sehingga orang tak sungguh-sungguh connect dengan realitas konkret hidupnya. Mungkin atribut itu juga bisa disematkan pada agama (baca: pemeluk agama). Indikasinya jelas: di tempat ibadat omongannya suci-suci, melayang-layang, semuanya benar adanya; tetapi sekeluarnya dari tempat ibadat, yang suci-suci tadi melayang, kebenarannya menguap, dan hidup benar-benar dikontrol oleh hukum dari bawah (struggle for the fittest). Ini bukan eksklusif milik pemuka agama yang mesti menerjemahkan Sabda Allah, melainkan juga milik pemeluk agama biasa: penuh intrik politik sana-sini untuk meraup keuntungan pribadi, dan kemudian tanpa malu-malu mengenakan pakaian ibadat dan menampilkan tampang alim!

Teks Injil hari ini memuat wacana apokaliptik yang menunjuk dua poin: (1) kejelian untuk membaca tanda-tanda zaman dan (2) harapan berlandaskan Sabda Tuhan, yang mengusir ketakutan atau kekhawatiran. Keduanya terhubung dengan kedatangan Kerajaan Allah (yang tidak identik dengan agama apapun). Kekacauan, krisis, perang, kekerasan, bencana, semuanya menjadi medan hidup bagi umat beriman untuk menangkap ke arah mana Allah menghendakinya untuk bertindak. Bahkan dalam situasi yang tampak tak berpengharapan pun, umat beriman masih dapat melandaskan harapannya pada Sabda Allah sendiri, yang takkan pernah berlalu.

Bayangkan betapa ‘sabda’ seseorang susah berlalu: ungkapan sayang, ungkapan kebencian, semuanya bisa tetap lengket di kepala bahkan meskipun orang yang mengatakannya sudah mati. Artinya, kata-kata orang itu terfiksasi dalam hati. Kok bisa? Karena ada pengalaman subjektif dengan orang itu, entah cinta ataupun benci. Pengalaman relasi membuat kata-kata orang lain bahkan merasuk dan menjelma dalam rangkaian respon baik berupa kata-kata maupun tindakan.

Njuk kenapa agama (alias pemeluk agama) malah jadi skizofrenik, alias tak bisa merasukkan Sabda Allah itu dalam hidup konkret? Jelas: karena tak ada relasi dengan Allah-Nya sendiri, tak ada Sabda-Nya yang nyanthol dalam hati. Aturan agama boleh saja dijalankan, tetapi tanpa relasi itu, agama tetaplah skizofrenik, penampakannya saja yang baik, dalamnya tetap tengik.

Tuhan, mohon rahmat supaya aku senantiasa sanggup mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Mu. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXXIV B/1
27 November 2015

Dan 7,2-14
Luk 21,29-33

Posting Tahun Lalu: Passa Questo Mondo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s