Berpikir Positif? Maksudnya?

Semakin manusiawi, semakin ilahi. Begitu kata Paus Leo Agung. Memang, sulit bagi kita membayangkan sosok ilahi yang menampilkan wajah tak manusiawi. Karena itu, maklumlah orang bertanya-tanya bagaimana mungkin Allah melakukan pembiaran terhadap aneka macam kejahatan. Wajar juga kalau orang mengalami krisis iman lantaran kekacauan terus berlangsung menimpa hidupnya.

Bacaan Injil hari ini melanjutkan tanda-tanda apokaliptik: kehancuran Yerusalem dan gejala alam yang dahsyat. Pesannya sederhana: di hadapan malapetaka, perang, kelaparan, kekacauan politik, hendaklah umat beriman mengangkat muka. Bukan dalam arti arogan, melainkan dalam arti mengubah paradigma berpikir. Hari akhir dunia bukanlah tragedi seperti dikisahkan sebagian film berbau-bau kiamat. Akhir dunia adalah penyingkapan kelembutan Allah kepada manusia secara definitif. Dunia boleh saja ancur, tapi hancurnya masih dalam dekapan Allah yang hendak menyambut semua orang dan menyelamatkannya.

Dengan begitu, orang tak perlu cemas, takut, atau berpikir negatif mengenai tanda-tanda apokaliptik itu. Umat beriman perlu berpikir positif: dalam kehancuran, Allah senantiasa mencintai manusia. Ia mencari cara bagaimanapun, dalam kondisi apapun untuk menyalurkan cinta-Nya. Buluh yang patah terkulai tak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang (Mat 12,20). Berpikir positif seperti ini mengandaikan trust dan iman kepada Allah Sang Penyelenggara, yang tak sepenuhnya bisa diadopsi, dibreakdown dalam relasi dengan sesama.

Relasi dengan manusia memang rapuh dan naiflah positive thinking yang hendak menyatakan semua orang itu baik. Faktanya, semua orang punya kerapuhan. Kalau orang terbukti berniat jahat atau negatif, perlulah dicari cara supaya kemurahan Allah tetap bisa dimanifestasikan: pengampunan. Pengampunan tidak menyatakan bahwa orang yang diampuni itu tak (akan) punya niat jahat. Pengampunan mencari cara supaya hidup manusia nan rapuh itu semakin manusiawi.

Ya Tuhan, bebaskanlah aku dari kecemasan dan kekhawatiran supaya cinta-Mu lebih mudah ternyatakan. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXXIV B/1
Peringatan St. Yohanes Berchmans (SJ)
26 November 2015

Dan 6,12-28
Luk 21,20-28

Posting Tahun Lalu: Tunggu Gak Pake Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s