Tunggu Gak Pake Lama

Mengapa menunggu kedatangan sesuatu yang kita sukai terasa lama, laksana menanti kepergian sesuatu yang tak kita sukai? Yang menentukan sesuatu terasa lama atau tidak rupanya bukan hitungan jam, melainkan (disposisi) batin. Orang yang batinnya hidup, menjalani pekerjaannya yang tujuh/sembilan jam sehari itu terasa cepat. Tahu-tahu, sudah tiba waktunya pulang bahkan meskipun ia masih ingin melanjutkan pekerjaannya. Sebaliknya, orang yang loyo batinnya, menghitung jam pun loyo; semuanya jadi lamban. Kenapa? Karena fokusnya pada hitungan jamnya, bukan pada pekerjaannya sendiri yang de facto ada di depan dan menggapai-gapai untuk digarap.

Bacaan hari ini masih melanjutkan wacana kehancuran akhir zaman yang merupakan refleksi penulis Kitab Suci atas kehancuran Bait Allah pada tahun 70an. Kalau kemarin idenya adalah soal kesabaran dalam menghadapi kehancuran, hari ini kita bisa mengerti bahwa kesabaran itu bukan tindak menunggu secara pasif tibanya jam selesai kantor atau deadline pekerjaan. Sabar tidak berarti pasif plonga-plongo menanti jam buka puasa, melainkan justru tindakan aktif untuk merealisasikan kairos: orang beriman tidak boleh lagi mengungkung perjumpaan dengan Allah pada sinagoga, gereja, mesjid, pura, vihara, dan bangunan fisik lainnya.

Begitu ada tanda-tanda bahwa bangunan ibadat itu akan segera hancur, umat beriman mesti bertindak. Kalau bisa merenovasinya, silakan. Kalau memang hanya bisa dihancurkan atau akan dihancurkan pihak lain, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat. Loh, piye sih, jelas-jelas akan hancur kok malah dibilang penyelamatan sudah dekat?

Memang aneh, tapi begitulah. Kehancuran yang fisik itu menjadi batu uji apakah kita sungguh beriman penuh harapan atau malah menjadikan rumah ibadat sebagai berhala yang mesti dibela habis-habisan (seolah-olah DPR pun harus dipertahankan mati-matian)! Ini berlaku bukan hanya untuk bangunan DPR atau rumah ibadat, melainkan juga bahkan relasi, prestasi, dan pekerjaan. Orang takkan selamat jika memutlakkan hal-hal itu tadi.

Berhadapan dengan deadline, orang justru perlu semakin fokus pada pekerjaannya, bukan pada waktu yang seolah mendekat. Fokus pada deadline malah bikin orang menanti dengan iringan batin yang nervous. Fokus pada pekerjaan saat ini dan di sini membuat orang menanti secara aktif. Ini yang bikin orang hidup dan menanti apa saja tanpa pakai bumbu bernama lama.


KAMIS BIASA XXXIV
27 November 2014

Why 18,1-2.21-23;19,2-3.9a
Luk 21,20-28

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s