Work with God, No Matter What

Gimana ya rasanya kalau Anda mengajak teman mengunjungi objek wisata megah dan sesampainya di tempat wisata itu dia cuma komentar “Yah, ini ntar bakalan hancur luluh lantak”? Yang dikomentari teman kita dalam teks hari ini bukan objek wisata, melainkan bangunan yang jadi simbol identitas bangsa Israel. Kalau simbol itu disinggung atau diutak-atik, bisa terkena pasal penistaan agama loh! Ini soal sensitif dan mungkin karena itulah para murid jadi kepo: kapan itu akan terjadi ya?

Yesus tak tertarik pada kepastian tanggal. Ia lebih tertarik pada apa yang secara konkret bisa dibuat supaya orang mengalami suatu pembaruan dalam hidup keagamaan. Hidup beragama yang basi berpusat pada Bait Allah yang didominasi oleh aneka ritus peribadatan. Orang datang ke tempat ibadat untuk menyucikan dirinya dengan aneka tata cara peribadatan (lengkap dengan versi resmi, fakultatif, tradisional, kreatif, ngawur, dan aneka macam argumentasinya tentang benar salahnya tata cara itu), kolekte, penyalaan lilin, kor yang dahsyat, kotbah yang menggelegar dan sebagainya. Orang yakin bahwa dari ritual itulah tercapai keselamatan lantaran sudah berbaik-baik kepada Tuhan.

Dalam benak Yesus, keagamaan yang ritual macam itu bakal roboh. Yesus menggambarkan situasinya dengan bahasa apokaliptik. Istilah apa lagi nih? Orang bisa disesatkan pengertiannya oleh aneka film yang bernuansa kiamat, akhir zaman nan mengerikan, apocalypse. Akan tetapi, apocalypse sebenarnya menunjuk pada hal lain, bukan soal situasi mengerikannya. Kata tetangga saya, apo itu menjauhkan dan kalypto berarti tindak mengerudungi, menyembunyikan, menutupi, dan sejenisnya. Maka apokaliptik menunjuk pada tindakan untuk membongkar, menjauhkan selubung dari suatu misteri yang tak diketahui orang.

Itulah yang dibuat Yesus: ia hendak membuka kerudung yang menghalangi orang untuk melihat dunia dengan cara pandang Allah sendiri. Kalau melihat gempa bumi di mana-mana, langit yang gelap menyeramkan dengan petir menyambar-nyambar, demonstrasi yang rusuh, perang di mana-mana, orang cenderung takut, baper, khawatir, cemas dan sebagainya. Orang melihat dengan kaca mata manusia dan hasilnya adalah aneka perasaan negatif tadi. Penulis apokaliptik sebetulnya tidak mementingkan peristiwa dunia yang bikin baper itu, tetapi menekankan datangnya Yerusalem Baru, dengan Bait Allah yang baru pula, bukan Bait Allah fisik material yang bakal runtuh itu.

Lha itu soal cara pandang. Yesus mengundang orang supaya memandang dunia ini sebagaimana Allah memandangnya. Kisah Ahong mungkin bisa dilihat ulang, juga anekdot pemuda kaya yang berkonsultasi dengan Nasruddin. Yesus punya dua indikasi penting. Pertama, supaya orang tak tertipu mereka yang menggembar-gemborkan diri sebagai reformator, tetapi ujung-ujungnya balik lagi ke zaman lama: kepentingan narcisistik. Kedua, supaya orang tak membiarkan diri diteror oleh aneka problem dunia. The show must go on dan badai pasti berlalu, tetapi penting bahwa setelah badai itu berlalu kita tetap ada di atas permukaan. Apa yang memungkinkan orang tetap berada di permukaan? Cara pandang Allah sendiri.

Poinnya bukan pada penting tidaknya, hebat tidaknya hal yang kita kerjakan (karena mengenai itu bisa didiskusikan panjang lebar seturut hitung-hitungan manajemen, ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya), melainkan pada kenyataan bahwa yang kita kerjakan itu, sekecil atau sebesar apapun, dilakukan bersama Tuhan, jadi Sabda yang mendaging dalam kemanusiaan kita.

Tuhan, semoga kami senantiasa mengenakan kaca mata-Mu. Amin.


MINGGU BIASA XXXIII C/2
13 November 2016

Mal 4,1-2a
2Tes 3,7-12
Luk 21,5-19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s