Mbok Tulus

Bacaan Injil hari ini sudah dibacakan pada hari Minggu kurang lebih sebulan yang lalu. Fokus refleksinya waktu itu adalah isi doa yang senantiasa menyerukan keadilan di tengah-tengah gaya hidup yang menginjak-injak nilai keadilan itu. Orang beriman diharapkan pantang menyerah dalam memperjuangkan keadilan meskipun orang-orang di sekelilingnya, bahkan yang semestinya secara formal menjadi penjaga keadilan itu, gak mau ambil pusing dengan cita-cita bonum commune yang didambakan setiap orang. Itulah doa yang sesungguhnya, yang menghubungkan dunia ilahi dan insani, yang membuka ‘peluang’ bagi Allah untuk menjadi Bapa bagi semua.

Loh, njuk orang ke gereja dan tempat ibadat itu apa bukan doa sungguhan sih, Rom? Mosok dah capek-capek latihan, bahkan pemimpinnya belajar belasan tahun supaya bisa memimpin ibadat itu, kok tidak dimasukkan sebagai doa sungguhan? Eaaaa… Saya sih menyebutnya ritual. Memang dalam ritual bisa juga terjadi doa sungguhan, yaitu ketika orang connect dengan dunia batinnya (meeting point dengan Tuhan) sendiri ketika mengikuti ibadat, tetapi ritual sendiri pertama-tama lebih bersinggungan dengan segi formal daripada materialnya. Materialnya adalah koneksi tadi. Orang tidak otomatis terhubung dengan Allah yang bersemayam dalam hatinya hanya karena ia sudah mendaraskan doa Bapa Kami, lima putaran rosario atau rumus doa lainnya.

Doa sejati, entah yang dilakukan dalam ritual agama bersama atau dalam suasana privat, tidak hanya merupakan koneksi antara orang dan Tuhannya, tetapi koneksi antara orang dan kenyataan lingkungan hidupnya. Kok isa? Lha ya jelas toh, bagaimana orang berdoa kalau tidak pertama-tama diintroduksi oleh lingkungan hidupnya mengenai Allah, mengenai doa sendiri? Selain itu, orang yang berdoa juga membawa seluruh harapan, keprihatinan, kegembiraan, duka yang terhubung dengan kenyataan hidupnya. Doa sejati bukanlah mekanisme fuga mundi, pelarian diri dari dunia, melainkan justru suatu partisipasi aktif yang memasukkan pernik-pernik kehidupan dalam koneksinya dengan Allah itu tadi.

Kalau begitu, penegasan Yesus bahwa orang mesti selalu berdoa ‘dengan tidak jemu-jemu’ bisa dimengerti juga sebagai pesan supaya orang tiada henti berpartisipasi dalam upaya penegakan keadilan. Ini bukan soal bahwa orang mesti masuk suatu LSM yang bergerak di bidang penegakan keadilan atau pemberdayaan manusia atau pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya. LSM dan sebagainya itu, seperti ritual tadi, adalah segi formalnya, yang tidak otomatis membuat orang-orang di dalamnya connect dengan Allah sekaligus perjuangan keadilan sosial.

Dalam perumpamaan disebutkan bahwa hakim yang lalim itu akhirnya memenuhi desakan janda bukan karena memang itulah yang semestinya dia lakukan, melainkan semata karena ia tak mau diganggu lagi. Orientasinya melenceng dari panggilan sejatinya sebagai hakim penjaga keadilan. Tak ada ketulusan dan tanpa ketulusan itu, orang cuma bermain politik dengan menghalalkan segala cara atau bentuk. Isinya tak lain adalah hidden agendanya sendiri yang menggerogoti keadilan sosial.

Ya Tuhan, semoga doa-doa kami adalah ketulusan hati untuk merealisasikan keadilan-Mu dalam ranah kehidupan bersama kami. Amin.


SABTU BIASA XXXII
Pesta Wajib S. Yosafat
12 November 2016

3Yoh 1,5-8
Luk 18,1-8

Posting Sabtu Biasa XXXII B/1 Tahun 2015: Teror Doa?
Posting Sabtu Biasa XXXII Tahun 2015: Berdoa Kagak Kenal Cape’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s