Teror Doa?

Believe it or not! Bagi kebanyakan orang, berdoa pribadi (dengan meditasi, kontemplasi, atau lectio divina) selama setengah jam lebih melelahkan daripada mengemudikan mobil selama dua atau tiga jam di tengah kemacetan Jakarta. Persisnya: lebih membosankan! Kalau tak percaya, silakan coba sendiri ya.

Pesan Yesus hari ini ialah supaya orang beriman tak bosan-bosannya berdoa. Ini adalah kerohanian jemaat Gereja Perdana dan tulisan Perjanjian Baru di sana-sini juga mengangkat tema yang sama (Ef 6,18; 1Tes 5,17; Rm 12,12 misalnya). Yesus sendiri memberi contoh sepanjang hidupnya (sebelum memilih murid, sewaktu menghadapi orang banyak yang kelaparan, sewaktu galau di Taman Zaitun, sampai menjelang ajalnya). Doa sungguh jadi nafas kehidupan, bukan ideologi yang melulu dijadikan objek kajian otak.

Alasan Yesus untuk itu disampaikan dengan perumpamaan: seorang janda memohon keadilan dari hakim yang, sebutlah, ateis. Hakim tak punya alasan untuk membela janda itu; wong hidup ini ya absurd: suka-suka gue, terserah elu! Ini hakim yang lalim. Akan tetapi, karena janda itu terus mendesak, akhirnya si hakim berpikir: ini perempuan rese’ amat; daripada terus menerus diganggu dan mungkin malah bisa merugikan aku, wis diselesaikan aja deh! Entah ini mau dikategorikan sebagai win-win solution atau bukan, pokoknya si janda mendapatkan apa yang dia inginkan, dan si hakim pun terhindar dari apa yang menyusahkannya. Nah, kalau hakim ateis yang semata egois saja akhirnya mengabulkan permohonan janda itu, mosok doa terus menerus orang beriman tak dipertimbangkan Allah? Kira-kira begitulah argumentasi Yesus.

Akan tetapi, di akhir teks itu ada kesan bahwa Yesus ragu-ragu juga ya: jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi? (Luk 18,8 ITB) Dia kiranya juga tahu bahwa doa tiada henti itu gak otomatis bisa dilakukan, sehingga tak mungkin juga doa bisa dilakukan sebagai teror kepada Allah. Doa tak kunjung padam mengandaikan sikap batin orang yang selalu tersedia untuk mendengarkan Sabda Allah, bukan memperdengarkan sabda diri sendiri.

Ada dua hal yang kurang kondusif. Yang satu ialah secuil kemajuan atau perkembangan: pernah kursus atau retret doa, pernah mengenyam pendidikan seminari, Tahun Orientasi Rohani atau Novisiat, dan sebagainya. Orang bisa jadi mengalami perkembangan rohani setelah pernah pegang Kitab Suci dan mendoakannya, pernah bisa kontemplasi, pernah tahu lectio divina itu apa dan sebagainya. Akan tetapi, orang fanatik fundamentalis biasanya justru adalah mereka yang mengalami secuil perkembangan dan sudah rumangsa bisa (merasa diri bisa apa saja) atau tahu segala-galanya. Juga termasuk dalam kelompok ini mereka yang berpindah agama dan omong seolah-olah ia tahu sedalam-dalamnya agama yang pernah dipeluknya (padahal hanya mengindikasikan bahwa ia tak bisa move on). Doa tiada henti justru tak memakai keterangan ‘pernah’.

Kesulitan lainnya datang dari status yang dimiliki seseorang atau nama besar dari agama atau kelompok religius yang dijadikannya tempat untuk ‘bersarang’. Status yang kokoh ini seolah-olah menutup kerapuhan orang yang bersarang di dalamnya. Bisa jadi malah orang tak lagi berdoa (secara pribadi) karena sudah (berstatus) suster, frater, romo, imam, dan sebagainya. Memang, dibutuhkan kerendahan hati.

Ya Allah, semoga Roh Kudus-Mu tak jemu-jemunya mengetuk hatiku untuk tiada henti berseru pada-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXXII B/1
14 November 2015

Keb 18,14-16;19,6-9
Luk 18,1-8

Posting Tahun Lalu: Berdoa Kagak Kenal Cape’

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s