Agama Membosankan

Jika peristiwa teror di Paris disandingkan dengan aneka berita di belahan dunia lainnya mengenai perang antar suku, antar kelompok etnis, gempa bumi, banjir bandang, dan sebagainya, mungkin sebagian orang akan bicara mengenai tanda-tanda kiamat. Tidak demikian halnya teks Injil yang dipakai hari ini. Teks Injil hari ini tampaknya adalah bagian yang disisipkan oleh jemaat setelah penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi untuk menerangkan peristiwa yang terjadi pada saat itu. Apa sih yang perlu diterangkan?

Yang perlu diterangkan ialah apa yang menyusul suatu malapetaka. Di sana-sini kita temukan bagaimana orang berkomentar mengenai bencana: kemurkaan Tuhan, kualat, tanda-tanda kiamat, dan sejenisnya. Teks Injil hari ini pun memakai kata-kata yang bisa ditafsirkan ke arah itu: waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Persoalannya, waktu apa nih yang sudah dekat? Kiamat? Lha kok dari dulu ya sudah ada bencana, yang bahkan lebih berat, tapi gak kiamat-kiamat juga? 

Tanda-tanda yang disampaikan dalam teks Injil ini diambil dari Kitab Yesaya 13,10: bintang-bintang dan gugusan-gugusannya di langit tidak akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya. Menurut ahli Kitab Suci tetangga sebelah, ungkapan itu menunjuk pada bagaimana keyakinan bangsa-bangsa penyembah dewa bulan atau matahari akan runtuh; bagaimana aneka praktik dominasi kekuasaan yang tak manusiawi itu akan berganti wajah dengan kekuasaan yang lebih manusiawi.

Maka dari itu, jika dikatakan bahwa aneka bencana itu adalah awal penderitaan, tidak dimaksudkan sebagai awal dari penderitaan yang akan semakin besar dan berujung pada kiamat. Hal ini bisa dimengerti dengan kesakitan yang dialami oleh ibu-ibu yang hendak melahirkan anak. Awal kesakitannya tidak merujuk pada kematian setelahnya, melainkan kehidupan baru. Penderitaan, bahkan yang bersifat katastropik, kiranya bisa dimengerti sebagai runtuhnya berhala-berhala mereka yang menghancurkan kemanusiaan, pembuka tabir yang tersembunyi, yaitu harapan akan kehidupan baru.

Paus Fransiskus, menanggapi serangan teroris kemarin lusa, menyatakan bahwa perilaku teroris itu tak punya landasan religius atau kemanusiaan apapun. Artinya, tak ada atribut agama manapun yang bisa dilekatkan pada kekerasan yang mengerikan itu. Orang mengerti bahwa terorisme melampaui batas-batas agama atau tak berafiliasi pada agama manapun. Ini adalah awal kesadaran bahwa agama tak pernah bisa dipakai untuk menghakimi manusia dan mengerikanlah kalau di zaman begini orang masih ribut berwacana mengenai agama dengan tujuan apologetik (membela kebenaran agama tertentu). Kenapa mengerikan?

Orang takkan puas dengan argumentasi kebenaran agama; ia bisa melanjutkannya dengan wacana kebenaran aliran agama dan aliran itu pun masih bisa terpecah-pecah lagi sampai akhirnya malah orang tak lagi menemukan jalan menuju Allah. Rasa saya, alih-alih ribut atau ambil kuda-kuda untuk wacana kebenaran agama (yang malah menunjukkan diri tak pede dengan agamanya), lebih baik perlahan-lahan orang memaknai kemanusiaan yang berterima bagi semua orang dan dengan rendah hati mau mawas diri atas agamanya sendiri dan tak perlu nyinyir dengan agama lain. Itu membosankan.

Ya Tuhan, semoga rahmat damai-Mu menyentuh hati siapa saja yang berkehendak baik membangun dunia. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXXIII B/1
15 November 2015

Dan 12,1-3
Ibr 10,11-14.18

Mrk 13,24-32

Hari Minggu Biasa XXXIII A/1: Setan Ketakutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s