Kenal Dalangnya?

Saya baru mulai berdecak kagum atas seni pewayangan atau pedalangan atau apapun namanya setelah sekian waktu saya menikmati beberapa opera di Eropa. Sebelum itu memang saya pernah nonton pertunjukan wayang sampai theklak-thekluk terkantuk-kantuk dan tertidur-tidur. Pertunjukan wayang mungkin tak butuh pemain sebanyak orang yang terlibat dalam opera, tetapi dalam suatu waktu saya tercengang-cengang bagaimana dalang berkomunikasi dengan para penabuh gamelan dan penyanyi atau sindennya. Ia punya kode tertentu dan bisa saja mengulangi lagu tertentu jika ada yang perlu diulang karena kekeliruan, misalnya. Kekeliruan bisa jadi bagian dari pertunjukan.

Pokoknya, si dalang itu punya kuasa penuh, lebih daripada conductor dalam opera. Dalam arti tertentu, dalang inilah pencipta pertunjukan wayang itu. Dia yang menentukan jalannya narasi seturut lakon yang dimainkan, dengan improvisasi sana-sini yang membuat pertunjukkan jadi menarik (kalau yang nonton ngerti). Itu mengapa tidak semua dalang disukai banyak orang; bergantung pada kemampuannya mencipta pertunjukan itu. Meskipun mengagumi penabuh gamelan atau sindennya, orang menilai keseluruhan pertunjukkan wayang dari performance dalangnya. Bisa dimengerti bahwa dalang tertentu merupakan jaminan pertunjukan wayang yang bagus. Sebaliknya, jika orang menonton pertunjukan wayang yang bagus, ia mungkin dengan mudah menebak bahwa dalangnya itu adalah si A atau B yang memang sudah punya reputasi bagus.

Kitab Kebijaksanaan menyindir orang yang melihat karya seni tapi tak mengenal senimannya. Sindiran ini ditarik ke level rohani: tolollah mereka yang setiap hari berhadapan dengan ciptaan Allah tapi tak mengenal Allahnya sendiri. Padahal, pengenalan akan Allah itulah yang menjamin orang menyambut datangnya Kerajaan Allah yang disinggung dalam beberapa hari ini. Teks Injil hari ini menyinggung soal ‘mendadaknya’ kedatangan Kerajaan Allah itu sehingga orang takkan sempat pulang ke rumah atau bahkan sekadar turun dari atap untuk menyelamatkan beberapa barang yang penting. Pada saat itu, tak ada hal penting selain hubungan orang dengan ‘Sang Dalang’ tadi. Sejauh ia terhubung, selamatlah ia; kalau tidak, celakalah.

Hidup mati bukanlah hal terpenting di dunia ini. Tak ada gunanya orang hidup dengan kultur kematian dan celakalah kematian tanpa kultur kehidupan. Entah hidup, entah mati, yang terpenting ialah orang ada bersama Allah, ada dalam Allah. Keadaan itu takkan terusik oleh ‘kemendadakan’ datangnya Kerajaan Allah, bagaimanapun caranya. Tapi ya itu tadi, ‘ada bersama Allah’ hanya mungkin kalau orang mengenal-Nya dalam ciptaan-ciptaan-Nya juga. ‘Ada bersama Allah’ tak pernah bisa dikotak-kotakkan pada pengalaman baik-baik atau menyenangkan saja. Hidup di hadirat Allah mengandaikan kesadaran, kepekaan batin untuk menangkap kehendak-Nya (bukan apa yang kita pikir mengenai kehendak-Nya).

Ya Tuhan, mohon kepekaan batin supaya senantiasa mengenali-Mu dalam setiap peristiwa hidupku. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXXII B/1
Peringatan Wajib St. Stanislaus Kostka (SJ)
13 November 2015

Keb 13,1-9
Luk 17,26-37

Posting Tahun Lalu: Semakin Rohani Semakin Lembut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s