Ini Bukan Ruang Tunggu

Tak ada iman dalam kultur konsumtif. Pribadi konsumtif memperlakukan hal-hal di luar dirinya sebagai objek yang bisa diperalat semata demi kesenangan atau kenyamanan diri. “Aku ingin begini, aku ingin begitu” ala Doraemon bisa jadi landasan kultur konsumtif karena di balik pernyataan ‘ingin (melakukan beg)ini, ingin (melakukan beg)itu’ tersembunyi ideologi ‘ingin (mendapatkan) ini, ingin (mendapatkan) itu’. Pernyataan pertama menunjuk gerak aktif dari dalam, gerak partisipatif, produktif; tetapi pernyataan kedua terutama menunjukkan dominasi subjek terhadap objek.

Orang-orang Farisi bertanya kapan Kerajaan Allah akan datang dengan kerangka pikir kedua: mau menguasai Kerajaan Allah dengan rasio dan wawasan picik mereka. Mereka berpikir bahwa keselamatan dari Allah itu terjadi karena orang menaati hukum agama sebagaimana orang Farisi melakukannya. Mereka yakin bahwa mereka pasti mendapatkan tempat (penting) dalam Kerajaan itu. Maka, mereka kudu tahu tanda-tandanya kapan Kerajaan itu tiba.

Yesus punya pandangan lain. Menurutnya, Kerajaan Allah tak bisa diobjekkan. Jika tak bisa diobjekkan, tak bisa diprediksi juga. Maka, kalau orang memprediksi dan prediksi itu benar, objek itu bukan Kerajaan Allah lagi namanya. Aneka prediksi mengenai datangnya Kerajaan Allah itu justru menyatakan sebaliknya (yang datang bukanlah Kerajaan Allah) alias sesat. Ini penjelasan filosofisnya: begitu menjadi objek mutlak rasio, sesuatu itu kehilangan transendensi dirinya. Gampangnya begini. Dulu ada banyak hal yang dianggap misterius karena sains belum berkembang. Lama kelamaan hal-hal itu kehilangan sifat misteriusnya karena bisa dipecahkan oleh sains alias teknik. Sayangnya, Kerajaan Allah bukanlah produk teknik.

Yesus meyakini bahwa Kerajaan Allah sudah ada bersama dunia sekarang dan saat ini. Cuma sayangnya, Kerajaan Allah itu bukan seperti orang yang cari perhatian. Kehadiran Tuhan tidak terletak pada kekuatan eksternal yang dahsyat atau spektakular (bdk. peristiwa perjumpaan Elia dengan Tuhan di gua). Orang sering berpikir bahwa kehadiran Allah itu diiringi sesuatu yang fantastis, peristiwa heboh luar biasa. Kasihan deh orang yang menunggu mukjizat (kesembuhan tanpa obat, menang lotre tanpa ndaftar, nemu jodoh bak durian runtuh, dll) untuk mengembangkan imannya. Menunggu…menunggu…dan menunggu: pasif, konsumtif, tidak kontributif! Lah, emangnya dunia ini ruang tunggu po? [Nanti kalau orang sudah mati, kiranya masuk ruang tunggu dulu]

Kerajaan Allah tak bisa ditunggu sebagai objek pikiran semata. Kerajaan itu datang, termanifestasikan melalui realisasi kehendak baik orang-orang yang beriman kepada Allah (apapun sebutannya, bagaimanapun dipuji dan disembah) untuk membangun dunia yang semakin layak dihuni bagi manusia. Satu catatan senantiasa disertakan Yesus: orang-orang yang berkehendak baik seperti itu harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini (Luk 17:25 ITB).

Tuhan, berilah kekuatan dan daya tahan untuk setia pada style of life yang cocok dengan teladan-Mu. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXXII B/1
Peringatan Wajib St. Yosafat
12 November 2015

Keb 7,22-8,1
Luk 17,20-25

Posting Tahun Lalu: Ganti Lensa Biar Fokus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s