Utamakan Selamat

Kita mungkin akrab dengan tulisan safety first. “Utamakan keselamatan daripada kecepatan.” Akan tetapi, kita tahu bahwa jika keselamatan melulu dimengerti sebagai keadaan terbebas dari celaka, sakit, kematian, dan semacamnya, wejangan itu gak berbunyi apa-apa: orang berkendara motor perlahan bisa tewas terhimpit truk yang tergelincir, pedestrian yang berjalan di trotoar juga masih mungkin tercium moncong tronton. Serupa dengan itu, kalau keselamatan cuma dimengerti sebagai kesembuhan dari sakit (lahiriah), barangkali orang cuma memindahkan sakit dari lahiriah ke batiniah.

Kisah Injil hari ini mungkin bisa membantu kita untuk mengerti hal itu. Ceritanya sederhana, silakan baca teksnya dulu sendiri pada link yang tersedia di bawah (Lukas 17,11-19). Yesus memang menyembuhkan sepuluh orang kusta, tetapi cuma satu yang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih dan ia mengatakan: imanmu telah menyelamatkan engkau. (Luk 17:19 ITB) Kata yang dipakai pun berbeda: sembuh dan selamat. Orang sembuh dari sakit belum tentu selamat (dan selamat tidak berarti sembuh dari sakit). Cuma satu yang diberi peneguhan keselamatan, itu pun justru adalah orang ‘kafir’! Ironis: ‘kafir’ kok bisa bersyukur, sementara mereka yang tergolong umat terpilih malah tak tahu mengungkapkan syukur.

Teman saya yang tahun lalu menjalani proses colonoscopy (selang kamera dan pembersih usus dimasukkan melalui anus) mungkin bisa jadi contoh. Dalam proses itu perutnya semakin membesar dan keras kiranya itu menyakitkan. Dokternya sendiri juga meminta supaya kalau merasa sakit, teman saya ini mengatakannya; tetapi saya kira dia juga semacam ja’im sehingga tak pernah mengeluh kesakitan. Malah sewaktu saya tak tega melihat perutnya yang semakin menggelembung itu, ia memberi pesan terakhir sebelum saya meninggalkannya: tolong sampaikan pada Mr. so and so (yang perutnya besar sekali) bahwa saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan dia, tetapi sepertinya tak berhasil. Oalah…kok ya sempat-sempatnya, di tengah sakit begitu masih memberi alasan bagi saya untuk tertawa!

Orang boleh akrab dengan safety first, tetapi ia perlu punya background thought yang menyodorkan salvation first. Safety jelas menunjuk tataran fisik, dan itu memang penting; tetapi pentingnya menjadi relatif terhadap salvation. Memang sih gak lucu dan justru terkesan skeptis jika di belakang bak truk dituliskan salvation first. Yang penting, selamat tak pernah direduksi sebagai kesembuhan lahiriah belaka, tetapi juga terutama kesehatan batiniah: orang bisa bersyukur, rendah hati, gembira, berbelas kasih karena imannya. Ini berlawanan dengan orang yang menjadi keras karena (ideologi) agamanya: lahiriahnya mungkin sehat dan prima, tetapi mentalnya brutal.

Kalau menurut narasi Lukas itu, yang mentalnya ikut waras cuma satu orang. Itu pun yang ‘ateis’. Yang 90% lahiriahnya oke, tetapi batiniahnya lemah. Akibatnya, mudah diprovokasi dan tak mengherankan jika kemudian menjadi buas. Ini jadi makanan empuk untuk proyek politik chaos: rumah ibadat dibakar, dihancurkan; penganut agama lain diintimidasi, diteror, bahkan dibunuh. Memang, agama tak menyelamatkan. Imanlah yang menyelamatkan.

Tuhan, semoga aku senantiasa setia pada style of life yang cocok dengan teladan-Mu. Amin.


HARI RABU BIASA XXXII B/1
Peringatan Wajib St. Martinus dari Tours
11 November 2015

Keb 6,1-11
Luk 17,11-19

Posting Tahun Lalu: Revolusi Mental Pengemis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s