Pahlawan Tak Berguna?

Semakin lama saya semakin curiga setiap kali ada terjemahan dengan menggunakan kata ‘hanya’. Sering saya dapati kata ‘hanya’ itu adalah tambahan penerjemah yang berasal dari sikap negatifnya terhadap sesuatu. Bisa juga terjemahan itu mencerminkan rendahnya kepercayaan diri seseorang, atau harga diri yang tidak dihargai oleh dirinya sendiri (persis karena sikap arogannya). “You’re the boss, I’m your servant.” Kenapa kalimat itu mesti diterjemahkan “Kamu bosnya, aku cuma pelayanmu”? Dari mana datangnya ‘cuma’ itu? Ketika seorang pekerja lapangan memperkenalkan diri, ia bisa saja mengatakan,”Saya hanya tukang sapu.” (Lo kira semua orang mampu jadi tukang sapu?) Begitu pula pengakuan,”Saya ini cuma pegawai swasta.” (Emangnya lo beneran mau jadi pegawai yang digaji rakyat?)

Saya tak tahu bagaimana setiap orang menentukan harga dirinya. Barangkali mengikuti ukuran orang lain yang dipandangnya lebih baik dari dirinya. Kalau begitu, ya memang apapun yang dikerjakannya tak pernah punya harga sebelum dipandang baik oleh orang lain itu. Bacaan Injil hari ini omong soal sikap ‘hamba tak berguna’. Yesus mengatakan, “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Luk 17:10 ITB) Tampaknya memang hamba atau budak itu dipandang rendah.

Akan tetapi, ‘hamba tak berguna’ tidak dimaksudkan Yesus untuk omong soal harga diri hamba. Kata ‘tak berguna’ (ἀχρεῖοί) di situ sepertinya lebih bernuansa: tidak cari keuntungan diri. Umat beriman menjalankan kerasulannya bukan untuk mencari keuntungan diri. Aih aih, mulia sekali; njuk gak terima honor atau gaji gitu?
Gaji mah jalan terus sewajarnya jika orang bekerja mencari nafkah (kalau perlu malah minta kenaikan gaji, tapi ya tahu dirilah dengan kualitas kerjanya ya, haha), tapi kan dalam melakukan pekerjaannya itu orang bisa menjiwainya dengan nilai-nilai kebajikan atau keutamaan. Nah, penjiwaan kerja dengan nilai-nilai itulah yang jadi bagian kerasulan orang beriman: kejujuran, etos kerja, keadilan, transparansi, kerja keras, kesabaran, kerendahan hati, dan lain-lainnya.

Orang tidak membeli kejujuran, keadilan, kesabaran, kerendahan hati, dan sebagainya. Itu adalah rahmat gratis (meskipun orang juga mempelajarinya dari sekolah swasta yang tidak gratis) yang sudah sewajarnya diberikan juga secara cuma-cuma. Apa yang kamu dapat secara cuma-cuma, bagikanlah juga secara gratis (bdk. Mat 10,8). Kerasulan macam ini tidak menuntut upah; atau kalau mau pakai perspektif upah ya seperti dikatakan Paulus: upahku ialah bisa mewartakan kabar gembira tanpa upah (1Kor 9,18). Itulah ‘hamba tak berguna’.

Hamba tak berguna macam itu kebanyakan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Ini tidak eksklusif milik guru, tetapi semua saja yang pada batas maksimumnya menyerahkan nyawa bukan demi keuntungan dirinya, melainkan karena kematiannya merupakan konsekuensi pembelaan imannya (bukan ideologi!) yang sejati.

Tuhan, semoga aku senantiasa setia pada style of life yang cocok dengan teladan-Mu. Amin.


HARI SELASA BIASA XXXII B/1
Peringatan Wajib St. Leo Agung
10 November 2015

Keb 2,23-3,9
Luk 17,7-10

Posting Tahun Lalu: The Real Hero

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s