Gereja Tak Butuh IMB

Pada setiap awal mata kuliah Sejarah Gereja, saya selalu bertanya apakah sejarah Gereja bisa dipelajari orang nonkristen. Kebanyakan jawaban yang saya terima itu positif: sejarah Gereja bisa dipelajari oleh semua orang sebagaimana setiap orang bisa mempelajari sejarah agama Kristen. Yang menjawab seperti itu, kiranya juga tak memahami tulisan Sejarah Allah Bukan Sejarah Agama, yang paralel dengan pembedaan sejarah agama Kristen dan sejarah Gereja. Sejarah Gereja, seperti sejarah Allah, ialah dinamika perkembangan bagaimana Allah yang transenden itu merasuki ruang dan waktu untuk menyelamatkan manusia. Lha, kalau orang tak percaya akan eksistensi Allah atau tak percaya bahwa Allah itu terus mencipta semesta juga melalui orang-orangnya, bagaimana ia mau mempelajari sejarah Gereja? Yang bisa dibuatnya hanyalah mempelajari sejarah agama sebagai suatu fenomena sosial; mempelajari struktur bangunan dari perspektif seni, arsitektur, budaya, dan sebagainya.

Maka dari itu, judul “Gereja Tak Butuh IMB” bisa saja langsung memberi kesan arogan jika orang menangkapnya dalam kerangka politik atau bisnis agama. Akan tetapi, seturut pesta yang dirayakan hari ini (Pesta Pemberkatan Basilik Lateran), sudah jadi jelas bahwa bangunan fisik Gereja bukanlah yang utama. Yang terpenting adalah bangunan Allah sendiri dan bacaan kedua mengingatkan bahwa bangunan Allah itu adalah kumpulan orang yang beriman sendiri, sebagai Gereja. Begitu pula bacaan Injil dengan jelas memberi keterangan bahwa yang dimaksudkan dengan Bait Allah adalah tubuh Kristus sendiri.

Sewaktu Nero hendak menandatangani pernyataan resminya yang mengambinghitamkan orang-orang Kristen sebagai pembakar kota Roma, Petronius mengingatkannya dengan keras: kalau kamu menghukum orang-orang Kristen itu, kamu malah membantu mereka jadi martir dan kamu menjamin kelanggengan mereka. Saya sih tak mendengar langsung kata-katanya; cuma lihat dari film Quo Vadis yang diproduksi pertengahan abad lalu. Akan tetapi, memang pembantaian yang dilakukan Kaisar Nero terhadap jemaat Kristen bukannya menghabisi mereka, malah semakin menarik simpati banyak orang untuk jadi Kristen.

Bahkan Gereja yang dimengerti sebagai bangunan Allah itu sendiri pun tak bisa direduksi sebagai orang-orang Kristennya. Orang-orang Kristen itu adalah dimensi visible dari Allah yang invisible, yang senantiasa setia hadir dalam dunia. Apakah dimensi visible itu cuma (persekutuan) orang-orang Kristen? Pasti tidak! Allah yang invisible itu melampaui pembatasan yang visible. Maka, Gereja memang tak butuh IMB: Allah tak butuh perizinan apapun untuk memanifestasikan dirinya dalam dunia. IMB justru dibutuhkan ketika orang hendak membatasi manifestasi Allah itu dengan dinding, atap, lantai bertingkat, panti kor, panti imam, menara, kantor sosial, dan sebagainya. Secara administratif itu disebut Izin Mendirikan Bangunan, secara religius berarti Izin Membuat Batas (kehadiran Allah) [tapi siapa yang berhak dan bisa memberi izin itu?].

Ya Allah, semoga semakin luaslah kerajaan-Mu. Amin.


PESTA PEMBERKATAN BASILIK LATERAN
(Senin Biasa XXXII B/1)
9 November 2015

Yeh 47,1-2.8-9.12
1Kor 3,9b-11.16-17
Yoh 2,13-22

Posting Tahun Lalu: Sedang Bikin House atau Home?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s