Sedang Bikin House atau Home

Memang rumah dan gereja tidaklah mirip, tapi bolehlah rumah dipakai sebagai cara untuk memahami apa yang disebut gereja (huruf kecil semua) dan Gereja (dengan huruf kapital). Singkatnya, gereja adalah house (pertama-tama menunjuk pada aspek yang kelihatan: bangunan fisik, tempat ibadat) dan Gereja adalah home (pertama-tama merujuk pada roh yang mewarnai aspek yang kelihatan).

Yang biasanya bikin ribut pastilah soal gereja sebagai house: butuh dana untuk membangun (dan dengan demikian butuh orang-orangnya yang punya uang), butuh lahan dan perizinan. Itu tentunya wajar dalam hidup bermasyarakat, tetapi bisa jadi penyelesaiannya kurang wajar. Yang minta izin dan dimintai izin bisa sama-sama ngotot sehingga terjadilah gontok-gontokan di sana sini.

Hari ini Gereja Katolik merayakan pesta atas pemberkatan sebuah gereja di Roma yang menjadi katedral, ‘tahta’ uskupnya. Gereja ini diberkati tahun 324 oleh Paus Sylvester. Trus, kenapa juga dipestakan di seluruh dunia, bukankah setiap keuskupan punya katedralnya sendiri?

Ini adalah basilika tertua yang dibangun di atas tanah keluarga Lateran yang beberapa anggotanya berhasil mendapatkan status terpandang, yaitu konsul, dalam kekaisaran Roma. Mereka ini rupanya terlibat dalam hiruk pikuk politik pada masa kaisar Nero, 30-an tahun pasca kematian Yesus. Wilayah itu kelak dikuasai oleh Kaisar Konstantinus dan besar kemungkinannya kaisar Kristen pertama itu malah menjadikan wilayah keluarga Lateran itu sebagai pusat kegiatan jemaat Kristen di Roma, termasuk tempat tinggal uskupnya.

Katedral menjadi tanda kesatuan umat yang tinggal di sekelilingnya. Nah, karena uskup itu gak cuma di situ, tentu ada katedral lain di seluruh dunia yang menandakan kesatuan umat. Dengan lika-liku sejarah panjang, Gereja Katolik menerima Uskup Roma sebagai pimpinan uskup di seluruh dunia. Itu kenapa pada tahun 1054 terjadi perpecahan antara Gereja Timur dan Barat. Gereja Timur tidak mengakui supremasi Uskup Roma. Pada Abad Pertengahan, Gereja di Jerman dan sekitarnya melepaskan diri dari ikatan hirarkis Gereja Katolik setelah para reformatornya melihat ketidakberesan dalam hidup menggereja, termasuk uskup di Roma alias pausnya.

Pesta pemberkatan Basilika Lateran tak hanya menunjukkan kesatuan Gereja Katolik (karena serentak merayakannya). Sejarah Basilika Lateran membentangkan kisah kehidupan jemaat Kristen sejak masa Gereja Perdana sampai masa kini; sejarah yang melampaui masa kelam karena ‘oknum-oknum’ yang hidup di dalamnya, tetapi toh terus menjadi medan karya Roh Kristus sendiri untuk senantiasa menerangi yang kelam.

Kalau begitu, tidak tepatlah menyebut gereja sebagai Bait Allah. Terlalu naiflah membatasi Bait Allah dengan dinding-dinding megah bangunan modern tiruan gaya barok, misalnya. Dari bacaan Injil hari ini jelas ditunjukkan bahwa tempat perjumpaan dengan Allah itu bukanlah bangunan fisik, melainkan kebangkitan Kristus! Hmm… gimana sih, bingung aku! Iya, saya juga bingung menjelaskannya…

Yesus bersuara lantang: rombaklah Bait Allah dan aku akan membangunnya kembali dalam tiga hari! Orang yang waras jelas kaget dengan pernyataan itu: Bandung Bondowoso keleus!!! Yohanes juga kiranya plonga-plongo, tetapi setelah Yesus bangkit, ia mengerti: yang dimaksud Yesus itu adalah kebangkitannya! Bait Allah yang sejati adalah Kristus yang bangkit itu, dan Kristus yang bangkit hanya bisa dimengerti jika orang-orangnya mengalami kebangkitan juga. Itulah the real home.


PESTA PEMBERKATAN BASILIKA LATERAN
(Hari Minggu Biasa XXXII A/2)
9 November 2014

Yeh 47,1-2.8-9.12
1Kor 3,9b-11.16-17
Yoh 2,13-22

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s