Post-Power Syndrome

Eberhard Jüngel, seorang teolog Lutheran, konon mengatakan kurang lebih begini: kalau orang mau memahami hidupnya, ia justru mesti mencecar dirinya di hadapan kematian. Bukan kematiannya yang penting, melainkan justru hidup inilah yang layak dimaknai. Kalau gak gitu, kata Viktor Frankl, ngapain orang hidup? Celakanya, tak sedikit orang beragama, meskipun mengerti bahwa kematian itu bukan akhir segala-galanya, toh pada kenyataannya bersikap dan bertindak seolah-olah kematian itu menyelesaikan segalanya, termasuk harapan dan cinta. Dengan kematian, menurut orang beragama ini, relasi terputus, harapan tak bisa diandalkan, semua cuma mimpi.

Penghayatan macam begitu mengindikasikan bahwa orang gagal menghubungkan dunia-surga atau surga-dunia. Wacana Yesus tentang analogi hari Anak Manusia, yang kerap secara kurang tepat ditangkap sebagai hari kiamat, bukan penjelasan mengenai kehancuran dunia seperti pada zaman Nuh dan zaman Lot. Wacana ini disodorkan supaya pendengarnya melihat pentingnya sikap eling lan waspada, suatu awareness yang memuat alertness. Sikap berjaga-jaga yang dipadukan dengan insight kemarin tentang Kerajaan Allah sebagai suatu proses, yang tidak bisa diklaim dengan hasil-hasil tertentu, menghindarkan orang beriman dari bahaya penipuan nabi-nabi palsu dengan jubah putih, kesantunan tingkat bangsawan, kecanggihan memanipulasi kekuatan supranatural, dan sebagainya.

Orang tak bisa memastikan kapan kiamat datang [boro-boro kiamat, prediksi gempa dan tsunami saja bisa keliru], tetapi ia bisa tahu persis bahwa hari itu datang begitu cepatnya sehingga takkan ada waktu lagi untuk mengubah arah: yang di ladang gak akan sempat pulang, yang lagi pesta gak akan sempat ke tempat ibadat, yang sedang di gua pertambangan gak akan sempat telpon keluarga, dan sebagainya. Semua akan mati, musnah, hancur, tetapi bukan poin ini yang hendak ditunjukkan Yesus. Ia lebih concern pada bagaimana orang menghadapi ‘hari-hari Anak Manusia’ itu.

Yang disarankannya tentu adalah sikap yang dibangun oleh Nuh dan Lot: senantiasa dalam penantian akan Allah yang menguakkan Diri, senantiasa aware dan dengan kepala tegak menghadapi kehancuran dalam kebersamaan dengan Allah yang bersemayam dalam batinnya. Orang macam begini, entah dia menghembuskan nafas terakhir dalam tempat ibadat atau tempat maksiat, dalam untung atau malang, dalam kandang atau tandang, mengalami keselamatan bukan karena tempat atau status bisnis atau politiknya, melainkan karena ia senantiasa bersama Allah yang sesungguhnya [bukan Allah yang dirasionalisasi dengan uang atau politik]!

Ketakutan pada kematian barangkali adalah indikator kuat bahwa orang tidak mengorientasikan hidupnya kepada Allah yang sesungguhnya itu. Ketakutan pada kematian ini bisa dirunut juga dari suatu post-power syndrome: orang takut kehilangan aneka privilese yang diperolehnya dari kekuasaan yang pernah dimilikinya. Tak heran, ia akan membuat koordinasi supaya orang-orang dekatnya (tak perlu disebutkan siapa) menjamin privilese itu tak lenyap. Ada kemungkinan loh, post-power syndrome dan kompleksnya itu merenggut banyak orang dari rengkuhan Allah yang sesungguhnya dan krasan dengan Allah yang mereka ciptakan sendiri dengan tameng agama. Agama oh agama, mesakke tenan to kowe ki dijadikan aset bisnis ketakutan dan bikin orang susah move on!

Tuhan, mohon Cinta-Mu agar kami tekun dalam mencinta sesama lebih dari cinta-diri kami.


JUMAT BIASA XXXII
Pesta Wajib S. Martinus dari Tours
11 November 2014

2Yoh 1,4-9
Luk 17,26-37

Posting Jumat Biasa XXXII B/1 Tahun 2015: Kenal Dalangnya?
Posting Jumat Biasa XXXII Tahun 2014: Semakin Rohani, Semakin Lembut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s