Sudah Jago?

Pernah dengar ungkapan ‘sudah tapi belum’? Mungkin jarang-jarang ya. Orang terbiasa dengan yang pasti-pasti aja. Kalau sudah ya sudah, kalau belum ya belum, gak ada ‘sudah’ kok ‘belum’. Akan tetapi, de facto ya memang begitu: ada kenyataan yang memuat secara bersamaan dua keterangan waktu itu. Apa kata lainnya? ‘Menjadi’. Yang ditunjuk oleh kata itu adalah suatu proses.

Proses merupakan resultan antara yang aktual dan ideal dan inilah yang dibicarakan Yesus, menanggapi pertanyaan orang Farisi mengenai kapan Kerajaan Allah itu tiba. Orang Farisi menantikan suatu pertunjukan dahsyat datangnya Kerajaan Allah itu. Padahal, takkan pernah begitu halnya. Kerajaan Allah bukanlah dunia ‘hasil’, yang bisa ditunjukkan dengan kategori ruang waktu tertentu. Iman kepada Allah mengandaikan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam dinamika batiniah manusia. Artinya, Kerajaan Allah pun tidak tiba di luar kesadaran manusia sendiri, bergantung pada relasinya dengan Allah dalam hidup kesehariannya. Ini adalah proses dinamis yang tak bisa dikungkung oleh ruang waktu.

Orang boleh berantem untuk menentukan apakah si anu layak diberi atribut sebagai pahlawan atau tidak. Yang satu mengatakan bandit penjarah berdasi, yang lain menyebutnya penyelamat. Orang boleh ribut dengan hasil pemilu Amerika dan keributan itu ditunjukkan juga dengan reaksi pasar. Persis bukan dengan kategori itu Kerajaan Allah dianalogikan. Kalau Kerajaan Allah diklaim dengan kategori macam itu, percayalah, itu bukan Kerajaan Allah lagi, apalagi kalau ketambahan (politik) uang.

Susah ya mendeteksi kedatangan Kerajaan Allah? Ember… kalau gampang aja mah dari zaman jebot gada perang, gada kaum fanatik, fundamentalis, radikalis. Mungkin karena orang tak tahan dengan kesulitan itu lantas ambil jalan pintas nan gampang: memutlakkan apa yang dipikirnya sendiri, memutlakkan agamanya sendiri, memutlakkan Tuhan di kepalanya sendiri, dan seterusnya.

Di Hari Pahlawan, ini renungan (ciyeh…), ada baiknya orang memelihara ideal diri sebagai pahlawan Kerajaan Allah dengan menatapkannya pada diri aktualnya. Betapa njeglegnya alias njomplang alias gapnya begitu jauh dan sejauh itulah Kerajaan Allah bisa direalisasikan: ‘sudah tapi belum’. Berada dalam tegangan Kerajaan Allah yang ‘sudah tapi belum’ ini butuh ketekunan, kesabaran, kejelian, ketenangan, daya tahan. Kualitas-kualitas ini akan runtuh jika orang lebih sibuk memfokuskan diri pada doing daripada being. Maklum, kalau orang cuma sibuk dengan doing, ia bisa terjerembab oleh aneka pertanyaan ‘bagaimana caranya’ dan lambat laun pertanyaan ‘apa dan mengapa’ lenyap atau tak diutak-atik lagi. Ia jago bikin macam-macam events, tetapi tak tahu mengapa juga ia mesti membuatnya.

Sosok pahlawan adalah sosok jagoan yang disiplin: tahu tujuan dan cara mencapai tujuan itu. Tak semua orang yang berperang adalah jagoan. Kebanyakan dari mereka adalah korban (termasuk korban agama, yang jadi budak politik, duh). Jadi jagoan, seperti Kerajaan Allah, senantiasa merupakan proses gerak aktualisasi nilai-nilai Kerajaan Allah itu yang merangkul semua orang, tak mengecualikan orang, apalagi yang paling lemah, yang justru jadi indikator apakah orang benar-benar jago: saat ia mengampuni, saat ia memakai kekuatannya justru untuk menyokong yang lemah.

Ya Tuhan, mohon ketekunan untuk merealisasikan Kerajaan-Mu.


KAMIS BIASA XXXII C/2
Pesta Wajib S. Leo Agung
10 November 2016

Flm 1,7-20
Luk 17,20-25

Kamis Biasa XXXII B/1 2015: Ini Bukan Ruang Tunggu
Kamis Biasa XXXII A/2 2014: Ganti Lensa Biar Bisa Fokus

3 replies

    • Selama semesta ini berjalan, kepastian itu senantiasa relatif, terhubung dengan kenyataan yang unsur2nya mengalami perubahan. Allah tentulah kasih, tetapi bagaimana kasih itu terwujud senantiasa terus menerus dimengerti, dicari, direalisasikan dalam dunia yang terus berubah. Jadi, tentu ada kepastian, tetapi dalam arti kepastian iman. Saya cenderung mengatakan, dalam hidup beriman sebagai relasi dengan Pribadi yang Absolut, kepastian bukanlah segala-galanya. Alih-alih mencoba memahami Yang Absolut untuk percaya kepada-Nya, lebih baik percaya kepada-Nya untuk sedikit demi sedikit memahami-Nya.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s