Penista Tuhan

Dua tahun lalu ada film laris Bollywood yang berjudul PK (bacanya dengan pelafalan bahasa Inggris ya). Saya duga tayangan film ini di Indonesia terbatas karena konon di India pun ada protes dengan tuduhan penistaan agama! Padahal, film ini sebetulnya merepresentasikan kritik agama yang baik. Dalam dialog film itu dikatakan juga ideologi bawah sadar: Jika aku ingin hidup di negeri ini, jangan main-main dengan [kritik] agama! Apa saja bisa dipelintir sehingga orang bisa didakwa dengan tuduhan penistaan agama.

Salah satu konsekuensi hukum terhadap penistaan agama itu terjadi pada sosok Yesus yang akhirnya dibunuh karena kongkalikong tokoh agama dengan kekuatan politik bangsa Yahudi di awal abad Masehi. Kutipan teks hari ini hanyalah salah satu episode yang memupuk kebencian para pemuka agama terhadap pewartaan yang disampaikan Yesus: bagaimana mungkin tukang kayu ini dalam tiga hari membangun Bait Allah yang dibangun orang Israel selama puluhan tahun? Orang-orang Yahudi tak paham permainan perspektif yang disodorkan Yesus, dan itu berarti mereka tidak mengerti wacana rohani yang disampaikannya.

Tokoh PK mengkritisi paham Allah yang disodorkan setiap agama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Tidak, dia tidak hendak menistakan sila pertama Pancasila, dia justru hendak menohok penghayatan orang terhadap sila pertama itu! Kalau memang Tuhan itu satu, semestinya semua orang berusaha mengakses Tuhan yang satu itu, bukan malah terbuai oleh Tuhan yang diciptakan oleh para pemuka agama! Itulah yang dibongkar oleh PK, tetapi orang fanatik yang menonton film ini akan segera berhenti pada pernyataan PK bahwa Tuhan itu ada dua dan dengan itu sudah cukup untuk menghakimi bahwa PK menistakan agama dan sila pertama Pancasila.

Paralel dengan kritik agama itu ialah apa yang dibuat Yesus dalam teks hari ini: ia membersihkan Bait Allah dari kepentingan di luar pemuliaan Allah. Maklum, bisnis apa saja yang lahannya berhubungan dengan agama pastilah menggiurkan. Ini bertolak belakang dengan ‘bisnis’ yang bergerak di bidang ‘relasi dengan Tuhan’. Contoh? Ziarah ke tempat suci itu laris manis, subur untuk tempat akomodasi, agen perjalanan, bahkan mungkin penjual pakaian, dan sejenisnya. Sementara, berapa persen dari orang beragama itu yang dengan setia meluangkan waktu sejenak untuk ‘bisnis relasi pribadi dengan Tuhan’ di luar ziarah? Orang lebih condong pada konser, acara TV, kongkow dengan teman, dan sebagainya. Fenomena ini terjadi lintas-agama.

Penista Tuhan yang sesungguhnya bukanlah PK, melainkan orang seperti Tapaswi yang diposisikan sebagai pemimpin gerakan spiritual yang mengklaim bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Penista Tuhan yang sebenarnya ialah mereka yang hendak membela Tuhan. Masuk akal: lha wong yang menciptakan semesta ini ya Tuhan, mosok manusia yang cuma seupil malah mau membela Sang Pencipta? Itu merendahkan sekali dan itulah arti menistakan Tuhan: merendahkan derajat Tuhan sebagai yang lebih kecil daripada ciptaan-Nya sendiri.

Jangan-jangan, yang bisa jadi penista agama justru adalah mereka yang berkoar-koar membela agama karena di balik itu ada kepentingan ekonomi, kepentingan bisnis, dan tentu saja politik!

Ya Allah, mohon perlindungan-Mu supaya bangsa ini tak tercabik-cabik oleh ulah penista-Mu. Amin.


PESTA PEMBERKATAN GEREJA BASILIK LATERAN
(Rabu Biasa XXXII C/2)
9 November 2016

Yeh 47,1-2.8-9.12
1Kor 3,9b-11.16-17
Yoh 2,13-22

Posting Tahun Lalu: Gereja Tak Butuh IMB
Posting Tahun 2014: Sedang Bikin House atau Home?

5 replies

  1. Dalam dinamika relasi antarsubjek itu orang bisa jatuh pada pola instrumental, bukan komunikatif. Artinya, yang satu memperalat yang lainnya untuk tujuan tertentu. Dalam pola instrumental itulah bisa muncul ideologi, salah satunya berkenaan juga dengan ritus. Kalau orang tak sadar hal ini, relasinya dengan pribadi lain jadi korup oleh misalnya ritualisme, fundamentalisme, legalisme, ideologi, dan sebagainya. Orang mengira berkomunikasi dengan Tuhan, ternyata ia sibuk dengan ideologinya sendiri.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s