Penjarahan Pake’ Agama

Penjarahan identik dengan konteks perang atau kekacauan. Maka, biasanya orang mencontohkan beberapa kerusuhan untuk menunjukkan kasus penjarahan itu. Akan tetapi, tentu ada penjarahan yang tak kentara, yang membuat bangsa ini sangat lamban untuk berkembang. Tak mengherankan, hal sederhana yang dibuat oleh pemerintah bisa mengundang decak kagum luar biasa; bukan karena halnya sendiri luar biasa, melainkan karena orang sudah sekian lama akrab dengan penjarahan yang terjadi sebagai siluman itu (anggarannya siluman, aparatnya juga siluman). Pelayanan publik yang sebenarnya adalah suatu keniscayaan, suatu kewajaran, menjadi begitu langka di negeri ini karena pada sebagian besar pos pelayanan itu yang hidup justru mentalitas penjarahan, yang juga bisa dilakukan pake’ agama!

Dalam posting tahun lalu saya sebutkan konteks makna ungkapan “tak berguna” (ἀχρεῖοί) sebagai indikasi bahwa orang tak mencari keuntungan diri. Di mana letak ‘tak mencari keuntungan diri’-nya? Yaitu pada sikap mental seorang pelayan yang sadar diri bahwa ia melakukan hanya yang memang sewajarnya, seharusnya, semestinya ia lakukan sebagai pelayan itu. Ia tak perlu mengharapkan apresiasi tinggi atas kewajaran yang dilakukannya. Di sinilah problem bangsa ini: tak mengenal makna pelayanan.

Pos pelayanan publik dijadikan spot untuk pelayanan diri sendiri dengan aneka pungli dan setoran berjenjang (sehingga untuk apa saja diperlukan duit supaya lancar). Sebagian umat beragama mereduksi pelayanan sebagai urusan doa berdoa belaka (sehingga bisa jadi orang bangga dengan tombok-tombokan karena tak ada bayaran). Celakanya, kegagalan memaknai pelayanan ini jadi celah para siluman yang hendak mencari keuntungan diri mereka lewat jalur yudikatif, legislatif, maupun eksekutif. Yang paling mengerikan ialah jika agama dipake’ untuk agenda para siluman itu. Korbannya jelas: orang-orang yang kurang cerdas dalam beragama.

Sebagai orang beragama, saya malu juga bahwa tak sedikit orang yang membiarkan dirinya dibodohi siluman yang berkedok agama, apapun agamanya. Ini tak hendak menunjuk pada agama tertentu. Semua orang beragama punya potensi yang sama untuk jadi mangsa siluman tadi jika tak sungguh-sungguh mengerti makna pelayanan: akomodasi bagi semua sehingga Allah itu menjadi Bapa bagi semua orang. Ini bukan soal kuantitas pengikut agama, melainkan soal kualitas hidup bersama yang bermartabat.

Saya berharap semoga siluman-siluman itu mulai menongolkan dirinya dan semakin banyak orang yang sadar diri bagaimana hidupnya dijarah siluman itu pake’ agama. Mari doakan semoga proses identifikasi siluman itu pada hari-hari ini mendapat rida Allah sehingga bangsa ini tidak terus tertatih-tatih untuk berkembang.

Tuhan, mohon rahmat-Mu supaya kami semakin jeli melihat kualitas siluman dalam diri kami masing-masing.


SELASA BIASA XXXII
8 November 2016

Tit 2,1-8.11-14
Luk 17,7-10

Posting Selasa Biasa XXXII B/1 Tahun 2015: Pahlawan Tak Berguna
Posting Selasa Biasa XXXII Tahun 2014: Mau Muntah sebelum Blusukan?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s