Show of Force

Kemarin saya sempat napak tilas di sekitar Monas dan masih menemukan stiker di trotoar maupun tiang listrik dan pagar taman. Bunyi stikernya selayaknya slogan perang terhadap buron kelas kakap: tangkap hidup atau mati! Buset dah; proses pengadilan belum dimulai saja sudah pakai slogan macam begitu. Sehari sebelumnya saya masih melihat orang-orang yang sepertinya habis mengikuti acara aksi damai yang akhirnya jadi rusuh di beberapa tempat itu, dan ingatan saya melayang pada demonstrasi-demonstrasi mahasiswa ’98 yang rasa saya jauh lebih mulia daripada demo kali lalu, yang lebih tampak sebagai komedi tragedi politik.

Kenapa lebih mulia? Sekurang-kurangnya Famred, semula Forkot, wadah keterlibatan saya dan teman-teman kuliah dulu, merepresentasikan pemurnian motivasi demonstrasi yang teruji dalam waktu. Ini bukan soal show of force menduduki gedung MPR/DPR dalam hitungan satu dua minggu. Gerakan itu sudah dicicil sekurang-kurangnya selama setahun. Selain itu, prinsip non-violence juga dipegang baik-baik (meskipun akhirnya disusupi oleh kepentingan lain yang membuat rusuh besar-besaran dan Forkot sendiri terpecah karena sebagian memilih jalur violence juga). Hasilnya pun perlahan-lahan bisa dilihat dari iklim keterbukaan belakangan ini.

Demo lalu menunjukkan kekuatan people power yang semu. Sekali beraksi lalu bubar jalan. Sukses? Saya tak tahu, mungkin bisa dibilang sukses dalam hal mobilisasi massa ratusan ribu, tapi jelas tak ada apa-apanya dibandingkan dengan mobilisasi mahasiswa dan masyarakat di tahun ’98. Kalau targetnya menciptakan kerusuhan pun, paling-paling cuma berapa persen saja yang berhasil dan tak bisa dibandingkan dengan peristiwa ’98. Kali ini saya menaruh simpati pada aparat keamanan yang lebih terkendali daripada peristiwa ’98 dan semoga begitulah selanjutnya mereka menjalankan tugasnya.

Bisa dibayangkan sulitnya menjalankan tugas aparat keamanan untuk menghadapi aksi seperti kemarin dengan aba-aba dari petingginya untuk mengendalikan diri. Teks hari ini seolah-olah kok ya klop dengan suasana menghadapi ‘aksi damai’ kali lalu: gak mungkin gak akan ada penyesatan, provokasi, titipan kepentingan politik, tetapi celakalah orang yang mengadakannya! Haiya tega-teganya memanfaatkan pengikut agama yang begitu polos untuk menambah daftar hadir guna meneriakkan isi stiker yang keras itu. Siapa yang memanfaatkan? Entahlah, tetapi celakalah dia!

Akan tetapi pesan teks ini ada pada ayat yang meminta pembacanya untuk waspada dan mengembangkan keutamaan pengampunan. Para pembela kebenaran, pembela Tuhan, pembela agama yang sejati memiliki disiplin diri yang tinggi tetapi sangat compassionate terhadap orang lain. [Orang-orang boleh saja mengkritik seorang pemimpin begitu tajam ke bawah dan tumpul ke atas, tetapi kritikus itu sendiri perlu melihat diri sendiri apakah ia keras keluar dan lembek ke dalam.] Ia tak berpikir bahwa semua orang lain harus seperti dirinya, tetapi terbuka pada kemungkinan bagaimana kebenaran itu bisa hidup dalam diri orang lain dengan caranya sendiri.

Tuhan, semoga iman kami semakin dalam dan terbuka kepada belas kasih-Mu. Amin.


SENIN BIASA XXXII
7 November 2016

Tit 1,1-9
Luk 17,1-6

Posting Tahun 2014: The Real Hero

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s