Are We Immortal?

Fyodor Dostoevsky konon pernah kurang lebih mengatakan bahwa jika Allah itu eksis, manusia itu immortal, tak dapat mati. Tentunya ia memaksudkan manusia bukan sebagai kesatuan sistem biologis, melainkan sebagai jiwa yang menghidupkan atau menghidupi kesatuan sistem biologis itu. Paradigma manusia sebagai jiwa kekal yang menggerakkan kesatuan sistem biologisnya ini bukan paradigma yang masuk akal sampai sekitar pertengahan abad kedua sebelum Masehi, saat dikisahkan setting bacaan pertama hari ini.

Seperti bangsa-bangsa lain, dalam masyarakat Yahudi kematian diyakini sebagai akhir dari segalanya dari hidup ‘di sini’ karena setelah hidup ‘di sini’ ini, orang akan masuk dalam syeol nan mengerikan di bawah tanah. Tak ada hidup lain yang lebih indah daripada hidup yang ‘di sini’ ini. Maka, makna hidup ‘di sini’ ya habis dengan selesainya hidup ini. Dengan kata lain, orang tak memikirkan suatu ‘dunia lain’ yang bisa memberi kerangka makna terhadap apa yang dilakukan orang di dunia sini. Terserah orang mau apa, pokoknya ya cuma ini satu-satunya dunia yang masuk akal untuk diperjuangkan.

Oleh karena itu, pertanyaan yang disodorkan orang Yahudi kepada Yesus adalah olok-olok terhadap kepercayaan akan kebangkitan orang mati: kalau ada kebangkitan orang mati, njuk gimana dong mereka yang berpoligami atau berpoliandri? Laki-laki atau perempuan mana yang kelak diakui sebagai pasangan yang sah?

Kalau Anda mendapati pertanyaan itu masuk akal, itu pertanda bahwa akal Anda tidak masuk dalam paradigma kebangkitan yang disodorkan Yesus. Pertanyaan macam itu menyembunyikan paham bahwa kebangkitan berarti orang yang sudah mati itu kembali lagi kepada hidup ‘di sini’ (bisa diklik posting ini). Bukan itu yang dimaksudkan sebagai kebangkitan oleh Yesus. Ia bicara soal hidup dalam persekutuan dengan Allah yang memberi makna bagi hidup ‘di sini’ sehingga relevansi hidup ‘di sini’ itu tak diukur oleh kegunaan bagi hidup ‘di sini’.

Dengan paradigma begitu, orang tak perlu sedemikian tercengkam oleh ‘dunia sini’ dan lebih terbuka pada dunia persekutuan dengan Allah itu. Di hadapan kematian, orang punya jiwa besar dan kerelaan untuk meninggalkan aneka ikatan fisik dan psikologis dunia sini untuk masuk dalam dimensi kehidupan yang kekal. Maka dari itu, orang tak perlu pusing dengan argumentasi pasangan manten di ‘dunia sana’ karena jiwa manusia cuma terpaut kepada Allah sendiri. Di ‘dunia sini’ orang masih bisa pusing dengan argumentasi atau hidup perkawinannya amburadul persis karena keterpautan kepada Allah itu diselewengkan oleh aneka keterikatan lainnya terhadap hal-hal di ‘dunia sini’, yang fisik, yang mental.

Pada saat keterikatan terhadap hal-hal ‘dunia sini’ itu memuncak, orang tak mengalami kehidupan kekal, jiwanya mati, tak ada kamus move on. Hidup kekal dialami mereka yang memiliki detachment terhadap hidup fana ini. Artinya, pun jika orang mesti married, orientasinya bukan pada ikatan fisik yang temporal, yang rapuh, yang rentan terhadap kematian biologis, melainkan pada ikatan dengan Allah yang memaknai dan menghidupkan segala tetek bengek bisnis ‘dunia sini’. Sepak terjang dari ikatan dengan Allah inilah yang, selain membahagiakan yang bersangkutan, layak dikenang dan di situlah ditunjukkan sifat immortalnya.

Tuhan, semoga terang kebangkitan-Mu sungguh menjiwai hidup kami. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXXII C/2
6 November 2016

2Mak 7,1-2.9-14
2Tes 2,16-3,5
Luk 20,27-38

4 replies

  1. Salam Romo. Relevansinya dengan lompatan iman bagaimana Rom? Pada homili minggu kemarin, 06-11-2016, Pastor yang memberikan homili mengatakan bahwa orang saduki itu hidup rohaninya berdasarkan nalar (kalau di zaman sekarang mungkin dapat dikatakan mereka berpikiran liberal). Dengan demikian, saya menarik kesimpulan bahwa mereka (orang saduki) sangat selektif dalam melakukan lompatan iman. Mungkin kalau dibandingkan zaman sekarang (beragama dalam era sains modern), mereka merapkan pendekatan sains. Mohon pencerahannya Rom. Terima kasih.

    Like

    • Halo, saya tak tahu apakah jalan pemikiran mereka bisa diparalelkan dengan aliran liberal atau pun aliran dengan pendekatan sains. Nalar mereka sederhana. Tugas mereka jadi imam, pengantara umat dan Tuhan melalui ritus yang jadi privilese mereka. Kalau umat bisa sambung dengan Tuhan melalui ritual yang mereka pimpin, untuk apa lagi dunia lain yang menyambungkan umat dengan Tuhan. Dunia sini saja sudah cukup, tak perlu dunia lain; maka tak perlu kebangkitan untuk sambung dengan Tuhan itu tadi.
      Salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s