Manusia: Potensial Allah

Sewaktu terjadi amuk massa sebelum kerusuhan Mei ’98 di Jakarta, ada kejadian menarik yang terjadi di Salemba. Ada bank dan beberapa bangunan yang jadi sasaran amuk massa, tetapi ketika massa tiba di depan Rumah Sakit St. Carolus dan massa sudah siap dengan batu atau apapun yang bisa merusak bangunan, ada seseorang yang berteriak di tengah kerumunan massa,”Ini untuk orang miskin! Jangan dibakar!” Massa pun tak merusak RS Carolus. Artinya, massa yang cair itu menerima ideologi bahwa RS St. Carolus untuk orang miskin.

Hari ini dimulai masa Adven, tetapi bacaan Injilnya kok ya cuma kompilasi bacaan hari Kamis yang lalu dan Sabtu kemarin ya? Apa dari sekian banyak tulisan Injil itu tak ada bacaan lain untuk mengawali masa Adven sih? Katanya Adven itu menyiapkan Natal, lha kok malah bahas akhir zaman yang menyodorkan imaji kehancuran dunia yang menyedihkan, menakutkan, bikin galau, dan sejenisnya?

Mari kita lihat lagi Injil hari Kamis lalu (berpikir positif dalam iman, bukan positive thinking yang naif) dan Sabtu kemarin (pendoa dengan kesadaran kritis). Konteks tulisannya jelas. Yesus sedang menyongsong akhir hidupnya di Yerusalem dan di Bait Allah dia menyodorkan wacana apokaliptik, mendorong pendengarnya supaya lebih fokus pada yang substansial: relasi pribadi dengan Allah yang memupuk harapan di tengah kehancuran dunia. Kehancuran tidak lagi dipandang sebagai hari kiamat, tetapi justru sebagai penyingkapan potensi Allah yang murah hati, kuasa, baik, adil dan sebagainya. Lah menyingkap potensi Allah bagaimana kalau kenyataannya berupa kehancuran begitu?!

Salah satu tanda yang disodorkan Yesus adalah kehancuran Yerusalem. Sekarang kita tahu bahwa city of the world seperti Yerusalem itu takkah bertahan sepanjang segala abad. Di dunia ini apa sih yang abadi? Hancur ya hancur. Trus gimana, tanya lagi, kehancuran itu menyingkap potensi Allah?
Yerusalem dan Bait Allahnya, pada masa itu bisa disebut sebagai salah satu bangunan ajaib yang ada di dunia. Tentu tak mudah dan murah membangunnya. Siapa yang takkan tertegun melihat bangunan yang didirikannya itu hancur? Apa yang dilakukannya setelah tertegun melihat kehancuran itu? Yesus melihat lebih dalam daripada kehancuran bangunan fisik itu. Kehancuran Yerusalem dengan Bait Allahnya menantang ideologi yang membelakangi pembangunan Yerusalem dan Bait Allahnya, sebagaimana amuk massa mengusik ideologi di balik RS St. Carolus tadi. Tantangan ideologi ini bisa jadi mengubah cara orang bertindak.

Para pelajar biasanya mengubah jadwal hidup mereka saat menjelang ujian. Mungkin, masa Adven pun mengundang umat beriman untuk mengubah cara hidup menjelang Natal. Apa yang mesti diubah? Yang potensial menjadi real. Potensial Allah mesti diterjemahkan dalam way of life manusia.

Ya Tuhan, semoga masa penantian ini menjadi masa transformatif hidupku di hadapan-Mu. Amin.


HARI MINGGU ADVEN I C/2
29 November 2015

Yer 33,14-16
1Tes 3,12-4,2
Luk 21,25-28.34-36

Hari Minggu Adven I B/1: Ronda Seumur Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s