Banguuun….

Saya kira Anda setuju bahwa berangkat tidur jauh lebih menyenangkan daripada bangun tidur. Kalau tidak, cobalah periksa dokter [loh kok malah dokternya diperiksa?], mungkin Anda mengidap insomnia. Idealnya sih berangkat tidur dan bangun tidur menyenangkan, tetapi pada kenyataannya ya begitulah: bangun tidur itu tidak enak, keluar dari zona nyaman juga tidak enak, membuyarkan rencana yang sudah tertata itu tak enak. Orang seperti saya ini rentan terhadap hal seperti itu (dan saya mengandaikan Anda seperti saya dengan sedikit penyesuaian): sudah bikin perhitungan dengan plan nggarap paper ujian akhir di hari Minggu, mak bedunduk ada orang meninggal yang kerabatnya gedabikan mencari pastor untuk misa requiem dan berujung pada saya. Aseeeeek…. punya alasan untuk touring, entah nanti papernya selesai atau tidak, huaaaaa…

Pernahkah Anda lihat kembali pada momen seperti apa bangun tidur Anda itu lebih mengasyikkan. Syukur kalau mayoritas bangun tidur Anda diliputi perasaan dan sikap positif terhadap hidup ini, karena itulah pesan bacaan hari ini: gajahlah kebersihan. Bukan semata jaga kebersihan tentunya, melainkan berjaga-jaga bahwa hidup ini senantiasa merupakan jalinan sistemik dari begitu banyak elemen hidup yang bersentuhan dengan setiap orang. Karena itu, minggu pertama masa Adven, masa persiapan menuju peringatan kelahiran Isa Almasih, tidak dimaksudkan sebagai persiapan hari kiamat, tetapi persiapan menata disposisi batin supaya kedatangan Allah senantiasa menjadi perspektif hidup orang beriman (peduli amat dengan agamanya).

Penataan hati dan batin itu akan terbantu kalau orang menangkap kairos: waktu istimewa yang melampaui waktu kuantitatif kronologis. Tak mengherankan bahwa orang yang sedang jatuh cinta munyuk bangun tidur pun semangat. Apakah orang beriman mesti jadi munyuk dulu supaya bangun tidurnya menggairahkan? Tentu tidak, tetapi boleh jugalah belajar dari munyuk yang jatuh tadi. Meskipun ujung-ujungnya narsis, orang yang jatuh cinta munyuk itu punya keterarahan kepada yang lain. Itu saja yang diperhitungkan, tak usah narsisnya. Perhatian kepada yang lain, orientasi ke luar diri, itulah yang menggairahkan hidup orang beriman. Narsis sebagai motif dangkal bisa ditolerir, seperti saya suka touring (oalah jebulnya cari pembenaran, hahaha).

Tuhan, buatlah kami semakin peka terhadap rahmat yang berkelimpahan, yang selama ini tertutup oleh egosentrisme kami. Amin.


MINGGU ADVEN I B/2
3 Desember 2017

Yes 63,16b-17;64,1.3b-8
1Kor 1,3-9
Mrk 13,33-37

Posting Tahun 2014: Ronda Seumur Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s