Kata Bertuah

Dalam arti tertentu, Anda dan saya adalah kafir, seperti perwira Romawi yang dikisahkan hari ini. Memang, perwira Romawi itu katanya punya pengalaman bertemu secara langsung dengan Yesus, sedangkan kita ini hanya mendengar katanya si anu yang dulu mendengar dari si anu yang katanya pernah ketemu Yesus. Jadi modal percaya saja bahwa orang-orang yang dulu menularkan cerita itu tak berbohong. Ada jarak yang begitu jauh antara orang beriman zaman now dan pribadi Yesus yang hidup dua millenia lalu. Apakah perlu jarak itu dipangkas? Perlukah sosok Yesus dari Nazaret itu datang lagi setiap 25 Desember? Ya enggaklah, sekali lahir aja dah cukup; tak apa bahwa jarak dengan pribadi Yesus dari Nazaret itu begitu jauh.

Poin pentingnya justru dikemukakan oleh perwira Romawi yang kafir tadi, yang hidup di ‘tanah asing’, tetapi toh menaruh kepercayaan terhadap aneka kesaksian orang lain mengenai pribadi Yesus itu: tak usahlah engkau datang ke rumahku karena kata-katamu pun sudah punya daya kekuatan. Jalan pikiran perwira Romawi ini pun sederhana. Ia memahami kekuatan kata-kata Yesus itu seperti ia sendiri menghidupi tatanan komando dalam lingkungan militer: kalau aku beri perintah A kepada prajuritku, dalam batas kondisi normal, tak ada kemungkinan lain, prajurit itu akan melakukan A. Itu pula yang ditangkap perwira Romawi setelah ia mendengar cerita dari orang-orang bagaimana Yesus menyembuhkan orang sakit. Ia tentu juga bisa mengusir penyakit dengan kata-katanya.

Adegan perwira Romawi ini memang menyentuh. Andaikan saja semua orang beragama itu seperti perwira Romawi, tentu tiada lagi perang di sana-sini: Tuhan, Engkau tak perlu datang ke rumahku, sabda-Mu saja, cukup sudahlah.

Tapi dasar orang beriman zaman now, siapa sih yang masih membaca Kitab Suci? Kalaupun baca Kitab Suci, siapa sih yang tafsirannya membuahkan hasil inklusif? Sekarang saya semakin mengerti dan percaya bahwa Kitab Suci, bagaimanapun itu munculnya, senantiasa ditujukan bagi seluruh umat manusia. Kendala besarnya ada pada klaim agama yang hendak mereduksi Sabda Allah itu dalam kotaknya sendiri-sendiri dan kotak itu tak pernah dikomunikasikan satu sama lain dan kalau dikomunikasikan, malah agendanya untuk mendominasi kotak lain, alih-alih belajar dari kotak lain. Akibatnya, Sabda Allah pun bisa kehilangan khasiatnya.

Tuhan, bersabdalah dengan cara-Mu dan sekaligus berilah kami rahmat kepekaan untuk menangkapnya. Amin.


SENIN ADVEN I
4 Desember 2017

Yes 2,1-5 / Yes 4,2-6
Mat 8,5-11

Posting Tahun 2016: Senjata Cinta
Posting Tahun 2014: Kamu Sakit Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s