Come out of the tunnel

Hari-hari ini adalah pertemuan terakhir perkuliahan dan ujian akhir semester resmi dimulai. Salah satu catatan akhir yang disampaikan dosen kami adalah pentingnya memelihara keutamaan akademik yang disebut epistemological humility. Sepertinya kok cocok dengan bacaan hari ini ya. Maklumlah, kadang kala dibutuhkan cocoklogi juga.

Kerendahan hati (epistemologis) bukan tampilan orang yang mundhuk-mundhuk, membungkukkan badan ketika berjalan melewati orang yang lebih tua yang sedang duduk. Itu cuma ungkapan sopan santun ala Jawa. Kerendahan hati (lupakan saja epistemologisnya) di sini adalah bagian dari suatu kesadaran sejarah, yaitu bahwa apa yang kita pikirkan, apa yang kita ketahui, apa yang kita yakini, itu dibentuk oleh proses sejarah hidup kita masing-masing. Bukankah kita memakai bahasa tertentu, lahir dalam budaya tertentu, dari keluarga tertentu, masa tertentu, agama tertentu, status tertentu? Inilah yang membedakan bagaimana pengetahuan, keyakinan, agama seseorang dibentuk.

Jika orang beriman punya kesadaran historis seperti itu, ia bisa mengerti bahwa caranya beragama berbeda dari orang lain bahkan meskipun agamanya sama. Dengan kesadaran sejarah itu, orang beragama bisa memahami bahwa ia keluar dari terowongan dan melihat bahwa ada banyak orang lain yang juga keluar dari terowongan yang mereka lalui. Dalam situasi itulah orang hidup bersama dan jika ia tak punya kerendahan hati epistemologis tadi, ia cuma bisa mendewakan terowongannya sendiri dan tak mampu memaknai hidup dalam dunia majemuk ini secara lebih kaya. Kelompok seperti inilah yang disinggung dalam bacaan hari ini sebagai orang bijak dan pandai, tak merasa butuh perspektif lain, tak mengindahkan wawasan berbeda.

Di situlah terdapat paradoks orang beragama: ketika ia merasa agamanyalah yang paling benar bagi semua orang, pada saat itulah dia disesatkan oleh ideologi agamanya sendiri. Orang yang sungguh beriman takkan tertipu oleh keterbatasan terowongan agama (dan terowongan lainnya juga sih). Ia melintasi batas kategori yang dibuat oleh manusia sendiri. Sekali lagi, agama adalah konstruksi manusia sendiri, bukan ciptaan Tuhan. Abdullah Totong Mahmud sadar betul bahwa pelangi adalah ciptaan Tuhan, tetapi kalau ditanya siapa pencipta agama, saya ragu-ragu bahwa beliau akan menyodorkan jawaban yang sama.

Sasaran orang beriman kiranya satu: Tuhan yang satu itu, entah mau diistilahkan atau dirumuskan bagaimanapun. Agama hanyalah satu conditioning terowongan yang tak ada artinya tanpa relasi dengan terowongan lainnya. Relasi dengan terowongan lain tidak identik dengan penghapusan sejarah terowongan atau orang berpindah-pindah terowongan. Orang kecil dalam bacaan hari ini, yang menangkap rahasia Kerajaan Allah, adalah dia yang membuka diri pada kekayaan terowongan lain dan belajar dari sana. Di situ juga terdapat paradoks orang kecil: pada saat ia menyadari kekerdilan terowongan agamanya, ketika itulah ia memosisikan agamanya untuk terbuka pada inspirasi dari Allah yang dinyatakan lewat terowongan lain dan karenanya ia memperkaya agamanya sendiri.

Ya Tuhan, mohon pencerahan hati dan budi supaya kami orang beragama semakin rendah hati untuk saling belajar dan dapat menjumpai-Mu dalam perjumpaan dengan mereka yang berbeda. Amin.


SELASA ADVEN I
5 Desember 2017

Yes 11,1-10
Luk 10,21-24

Posting 2016: Cinta Monyet 212
Posting 2015: Terserah Gue Donk

Posting 2014: Tuhan Tandingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s