Cinta Monyet 212

Mungkin saya punya kelainan. Saya bukan pribadi yang mudah excited pada saat bertemu dengan orang-orang besar yang jadi figur publik. Apakah itu indikasi arogan? Entahlah, tetapi setelah pengalaman dengan Ahong itu [eaaaa keluar lagi tokoh kita], paradigma saya mengenai orang lain benar-benar berubah: status, conditioning, atribut, nama besar, jabatan, gelar dan sejenisnya itu omong kosong. Martabat seorang Ahong tak kurang dan tak lebih daripada artis, garong, koruptor, mantan presiden, pengusaha taipan, donatur demo show of force, ulama, paus, uskup, dan sebagainya.

Memang saya pernah begitu excited saat jumpa sahabat lama atau anggota keluarga setelah sekian waktu tak jumpa, tetapi itu normal-normal aja. Orang gembira berjumpa dengan teman lama karena punya modal pengenalan pribadi, bukan karena berhadapan dengan status atau jabatan orangnya. Perasaan excited itu bisa dimaklumi juga oleh tokoh sableng kita hari ini. Dia berkata kepada teman-temannya,”Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.” Kenapa? Karena memang banyak orang yang mau melihat, mendengar, memegang, makan bersama dengan si sableng ini. Si sableng ini bisa diganti dengan figur publik manapun dan orang bisa berefleksi sendiri bagaimana sikapnya kalau ia bertemu dengannya.

Akan tetapi, di bagian lain Kitab Suci kok dikatakan kurang lebih “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, tetapi percaya” ya? Apakah ini tidak kontradiktif? Tidak, itu justru suatu klarifikasi. Klarifikasi apa? Klarifikasi bahwa yang diberi proficiat ialah mereka yang de facto tidak melihat secara fisik tetapi percaya sebagaimana teman-teman si sableng ini percaya. Artinya, alasan kegirangan itu tidak lagi terletak pada akumulasi penilaian fisik (status, jabatan, popularitas, dan sebagainya), tetapi pada makna perjumpaannya sendiri. Sayangnya, makna perjumpaan tidak terletak pada sensasi indrawinya sendiri. 

Lihatlah video bagaimana penggemar pemain top sepakbola menangis sejadi-jadinya hanya karena boleh berdiri di samping pujaannya atau bisa cipika cipiki dengannya, cuma beberapa detik atau menit. Dia sangat girang sampai menangis. Apakah ia mengalami perjumpaan? Mungkin, tetapi lebih mungkin bahwa ia mengalami euforia dengan mimpi-mimpinya sendiri. Sosok pemain topnya sendiri gak penting, yang penting aku pernah ketemu pemain top itu. Pribadi artis beserta ideologinya gak penting, yang penting aku pernah salaman. Masa bodoh dengan sikap politik ngawurnya, yang penting aku pernah wefie dengan mantan presiden! Orang excited dengan pertemuan fisik insidental macam begitu, tetapi bisa jadi buta mengenai roh yang menghidupi pribadi-pribadi yang ditemuinya.

Tentu saya pernah mengalami perasaan excited seperti itu, yaitu saat cinta monyet melanda. Pada momen itulah hal-hal sableng bisa terjadi karena semua-muanya saja direduksi demi mengejar excitement itu. Dulu ada film serial pendekar 212 nan sableng dengan guru gendheng. Itu mengapa muncul judul cinta monyet 212. Dalam skala individual mungkin kesablengan cinta monyet itu cuma mengundang orang tertawa keheranan, tetapi kalau cinta monyet ini menggejala sebagai gerakan sosial atau politik, bisa-bisa agama pun diperalat! Hadeh… mari prihatin bersama mantan. Tapi kalau cuma prihatin, apa bedanya dengan si mantan ya [hahaha]?

Semoga hati-hati (artinya banyak hati) lebih berfungsi dan tak ditipu oleh cinta monyet 212 karena hatilah yang mampu melihat yang esensial dalam hidup ini.

Tuhan, mohon mata hati yang jeli.


SELASA ADVEN I
29 November 2016

Yes 11,1-10
Luk 10,21-24

Posting Tahun Lalu: Terserah Gue Donk
Posting Tahun 2014: Tuhan Tandingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s