Jatuh Lebay

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan secara tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” Jantung orang bisa berdetak begitu lamban sampai akhirnya berhenti. Pun halnya dengan hati orang, bisa begitu lamban karena beratnya hidup yang dijalaninya. Tapi orang sableng kita hari ini memberi catatan kritis yang mungkin bisa dirasionalisasi dengan suatu pendekatan filsafat pengetahuan.

Hati yang sarat pesta pora dan seterusnya itu adalah hati yang lebay, yang tidak bisa lepas dari atribut kenyataan hidup ini. Panas dinginnya air adalah atribut yang diberikan orang terhadap tingkat kalor yang diterimanya dengan sensasi, pengindraan. Panas dingin ‘hanyalah’ atribut orang terhadap dunia yang dipersepsinya. Begitu pula cepat-lambatnya waktu. Begitu juga halnya dengan berat-ringannya hidup. Untuk setiap orang berbeda-beda ukurannya. Orang sableng kita hari ini memberi saran supaya orang tidak mencampuradukkan antara berat ringannya hidup ini dan kesejatian hidup itu sendiri.

Apa indikasinya orang yang mencampuradukkan itu? Lebay, kelebayan, lebayness, atau bagaimanapun itu mau diberi atribut. Ada orang yang menjalani hectic lifestyle tetapi hatinya woles-woles aja. Bisa jadi saking padat jadwalnya ia memerlukan manajer atau personal assistant. Manajer ini berfungsi untuk membantunya supaya detak jantungnya bisa kurang lebih stabil dengan jadwal padatnya. Akan tetapi, manajer ini takkan bisa menata hati orang yang punya hectic lifestyle. Yang bisa menata hatinya ya cuma orang yang bersangkutan. Tapi ya itu tadi, lebayness takkan membantu orang untuk menata hatinya, lha wong lebayness itu indikasi atau atribut terhadap orang yang tak bisa menata hidupnya kok!

Betul orang perlu makan, tapi makan tidak identik dengan hedonisme dengan kulineria sepanjang segala abad amin. Betul orang perlu berlibur, tetapi kalau liburannya jauh lebih panjang dari jatah kerjanya, ia bisa kehilangan pekerjaan dong. Betul orang tua mesti mendidik anak, tetapi kalau ia tak memberi ruang dialog, bisa jadi berujung pada relasi yang memburuk. Obat dimaksudkan untuk membantu penyembuhan orang, bukan untuk disalahgunakan sebagai candu. Betul bahwa orang perlu perhatian (dan prihatin?) pada masalah atau problem, tetapi kalau perhatian itu jadi penyakit, itu sudah terlambat: orang tak menemukan kesejatian hidup. Mesakke, bukan? Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Dah gak nemu solusi, kok ya ketambahan problem baru: sakit (karena tak menemukan solusi)!

Tak mengherankan, orang sableng kita memberi pesan supaya waspada, tidak lebay, tak mabuk, tak eksesif dengan hal-hal materi-duniawi dan problematikanya. Tentu tak mudah menghadapi problem berat (tapi harap diingat, berat adalah kata sifat yang kita lekatkan pada problem), tetapi orang tak perlu menambah kesulitan itu dengan hati yang lebay: ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, dan sejenisnya. Atau, kalau mau kelihatan realistis: takut, cemas, khawatir secukupnya saja, supaya hati ini tetap cool meskipun tuntutan hidup tak henti-hentinya menerjang.

Tuhan, berilah kami hati yang dapat mengendapkan Sabda-Mu dalam hiruk pikuk kesibukan kami.


HARI SABTU BIASA XXXIV
26 November 2016

Why 22,1-7
Luk 21,34-36

Posting Sabtu Biasa XXXIV B/1 Tahun 2015: Doa demi Babi
Posting Sabtu Biasa XXXIV Tahun 2014: Jangan Takut Mencinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s