Allah kok Ditunggu

Ini renungan yang saya dapat dari tetangga sebelah. Penantian kedatangan Tuhan tidak pernah berarti seperti penantian kedatangan pesawat atau kereta api dengan jadwal yang kurang lebih jelas. Memang bisa jadi ada delay tetapi tetap ada referensi acuan penundaannya berapa menit, jam, hari, bulan, atau tahun. Sekali lagi, ini soal cara berpikir yang tak bisa menempatkan Tuhan seperti objek-objek lainnya. Pesawat dan kereta api tak bisa datang di hati orang, atau kedatangannya di hati itu tak ada artinya atau baru berarti untuk perlombaan merayu gadis pujaan.

Tuhan yang dinantikan bukanlah Tuhan yang belum datang dan nanti akan datang. Ini hanya akan membingungkan rasio dan mengikis kepekaan hati. Membingungkan rasio: katanya Allah menjelma jadi manusia, berarti sudah datang dong. Sudah datang kok ditunggu. Lho, kan yang dinantikan itu kedatangannya yang kedua; hehe… justru itu soalnya, gak ada yang tahu kapan, njuk mesti ngapain menantikan sesuatu yang tak jelas kapan tibanya. Hati galau deh: datang gak ya?

Yang dinantikan adalah Tuhan yang sudah datang sejak semesta diciptakan. Artinya, tindak menantikan kedatangan Tuhan itu bergantung pada seberapa jauh orang ‘memiliki’ Tuhan dalam dirinya, seberapa jauh ia ‘jatuh cinta’ pada Tuhannya itu. Kalau begitu, Tuhan macam ini bukan Tuhan yang tak dikenali orang dan menantikan kedatangan Tuhan bukanlah menunggu-nunggu hal-hal yang tak dikenali, yang luar biasa, yang tak biasa. Sebaliknya: orang mencermati apa yang dikenalinya, apa yang diketahuinya, apa yang sehari-hari dilakukannya, dan menangkap bagaimana melalui yang biasa itu Allah toh hadir.

Teks yang disodorkan hari ini menyinggung ‘dua orang di ladang’ dan ‘dua orang yang sedang bekerja’ dan salah satu dari dua orang itu ‘akan dibawa’ sedangkan yang lain ‘akan ditinggalkan’. Ini adalah ilustrasi untuk mengatakan bagaimana hari Tuhan itu tiba dan salah satu pesan bagi mereka yang menantikannya cukup jelas: bukan bergantung pada apa yang dikerjakan orang, melainkan pada bagaimana orang itu mengerjakannya.

Dua orang bisa sama-sama berada di ‘tempat suci’ tetapi bisa jadi yang satu dalam cinta, yang lainnya dalam citra. Yang doyan pencitraan bisa jadi melakukannya dengan senang hati juga, tetapi titik pijakannya berbeda. Citra cenderung mendesak orang untuk menyesuaikan diri dengan ideologinya sendiri. Cinta memungkinkan orang keluar dari cengkeraman dirinya sendiri dan memberikan dirinya dalam relasi dengan yang Lain, yang hadir melalui orang lain juga.

Tuhan, tambahkanlah cinta kepada-Mu dalam setiap tindakan kecilku.


HARI MINGGU ADVEN I A/1
27 November 2016

Yes 2,1-5
Rm 13,11-14a
Mat 24,37-44

Hari Minggu Adven I C/2: Manusia, Potensial Allah
Hari Minggu Adven I B/1: Ronda Seumur Hidup

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s