Guru Terbungkam

Ini hari adalah Hari Guru di Indonesia. Saya tak tahu mengapa ditetapkan tanggal ini sebagai Hari Guru; barangkali karena salah satu teman saya yang berulang tahun hari ini adalah seorang guru rohani (njuk ngopo). Kemarin saya mengikuti seminar bertajuk Reforming Pedagogy dan salah satu mahasiswa melontarkan pertanyaan yang muncul karena kegemasannya bahwa untuk sekian lama pendidikan di Indonesia tersandera oleh politik yang ancur. Nara sumber menengarai bahwa di balik pertanyaan itu memang tersirat hasrat akan perubahan yang begitu kuat. Maklum, anak muda, maunya perubahan itu cepat terjadi, lupa bahwa peradaban ini sudah berlangsung sekian milenium.

Teks hari ini mengundang pembaca untuk menangkap petunjuk-petunjuk alamiah yang mengantisipasi suatu perubahan. Hebatnya, petunjuk alamiah ini dipakai untuk menganalogikan bagaimana kehancuran hidup itu menjadi tanda-tanda datangnya Kerajaan Allah. Kok rasa-rasanya gak nyambung ya. Maklum, tunas pohon dan iklim tentu saja bisa dieksplorasi keterhubungannya, masih dalam satu level, satu dimensi (fisik); tetapi kalau kegaduhan politik, kekacauan, tragedi kehidupan dan Kerajaan Allah, ini gimana dihubungkannya? Ini kan tidak satu level?

Sebetulnya satu level sih. Yang bikin itu kelihatan tidak satu level ya cara orang melihatnya saja yang kurang distingtif: kegaduhan politik, kekacauan, tragedi kehidupan hanyalah simtom. Kalau itu simtom, kenyataan yang mesti dilihat adalah akar kekacauan hidup itu sendiri. Jadi, pot pecah, tanaman rusak, demonstrasi, ancaman suatu front terhadap pemerintah, banjir bandang, dan sebagainya itu hanyalah akibat fisik dari dinamika nonfisik. Kita bisa bayangkan: kamar berantakan, ortu ngomel-ngomel, deadline mendekat, orang terburu-buru pergi, nabrak pagar, sampai kantor terlambat diceramahi bos, teman ngegosip dan pulangnya ribut dengan sopir taksi, misalnya. Di situ memang yang bisa ditangkap oleh indra adalah visual kamar yang berantakan, suara teriakan ortu, penunjuk waktu yang terus bergerak, gerak jalan yang cepat, pagar yang keras, mobil penyok, dan sebagainya. Itu hanyalah simtom dari apa yang ada secara nonfisik.

Kamar berantakan bisa jadi adalah simtom orang merasa kekurangan waktu, atau malas bin kemprohdeadline yang senantiasa mendekat cepat bisa jadi adalah simtom orang yang hobi menunda pekerjaan, atau secara objektif beban pekerjaannya terlalu banyak. Begitu seterusnya. Simtom itu bisa berubah-ubah bergantung dinamika nonfisik orang. Kalau dinamika nonfisiknya ancur, ya tak perlu heran bahwa yang tampak dalam dimensi fisik juga kehancuran.

Maka, langit dan bumi akan berlalu, tetapi Sabda Allah tidak. Sabda Allah tetap, tanggapan oranglah yang berubah-ubah karena dicengkeram oleh simtom fisik: takut ini itu, merasa harus ini itu, dan sebagainya. So, kalau orang berhadapan dengan kekacauan hidup, yang perlu dia pertanyakan bukan Sabda Allahnya, melainkan tanggapan terhadap Kebenaran itu sendiri. Kekacauan, kekerasan, kekejaman adalah manifestasi penolakan Kerajaan Allah sehingga pernyataan “Jika kamu melihat hal-hal itu (kehancuran) terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat” tidak bisa dimengerti secara linear, seolah-olah baru setelah dunia hancur, Kerajaan Allah akan mendekat.

Kehancuran hidup terjadi karena Sabda Allah dibungkam. Setiap orang dipanggil untuk meneliti diri bagaimana ia membungkam-Nya sehingga skeptis memandang hidup ini. Ancur ya ancur.

Tuhan, bebaskanlah kami dari aneka kelekatan yang menjauhkan kami dari-Mu.


JUMAT BIASA XXXIV
25 November 2016

Why 20,1-4.11;21,2
Luk 21,29-33

Posting Jumat Biasa XXXIV B/1 Tahun 2015: Agama Skizofrenik
Posting Jumat Biasa XXXIV Tahun 2014: Passa Questo Mondo

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s