Pernah diPHP Tuhan?

Bagaimana orang menghadapi litani tragedi yang disodorkan kehidupan ini? Belum selesai kabar duka dicerna, sudah muncul kasus ibu yang, hanya karena kesal karena tidurnya terganggu, menendang anak balitanya (untuk menuliskan akibatnya pun saya tak sampai hati). Seperti anekdot perokok yang membaca bahayanya merokok lalu berhenti (membaca)? Mematikan radio dan televisi? Mengosongkan pikiran dengan meditasi?

Anjuran dalam teks hari ini menyodorkan imaji yang jelas: angkatlah kepalamu! Pasti maksudnya bukan memotong kepala dan menaruhnya di tiang pagar! Lagi-lagi bahasa apokaliptik yang disodorkan bacaan hari-hari ini menantang pembacanya untuk menentukan sikap. Pada saat dunia ini terlihat begitu amburadul, orang malah dianjurkan untuk mengangkat muka, mengangkat kepala. Alasannya: penyelamatan sudah dekat.

Sebagian orang mungkin menangkap hiruk pikuk politik sekarang ini sebagai kegaduhan yang mengkhawatirkan, mencemaskan, apalagi ditambah dengan bumbu makar pendekar 212. Bisa gawat, yang korup berkuasa lagi dan yang bersih malah digilas. Ini akan mengerikan. Memang, tapi mengerikan itu adanya di kepala, sebagaimana atribut baik buruk adanya di kepala orang sehingga akibatnya terjadi adu kepala di sana sini. Kenyataan hidup ya begitu itu, entah mau diberi atribut menakutkan atau mengasyikkan.

Anjuran teks hari ini tidak menunjuk pada optimisme orang bahwa yang mengerikan itu akan berhenti. Saudaranya Ahong akan menang dan Bani Yuni bakal menanggung sengsara dan sang mantan akan terbongkar kedoknya. Silakan dinikmati saja, tetapi pada akhirnya penyelamatan yang sudah dekat itu tidak bergantung pada kenyataan mengerikan atau memprihatinkan (seolah-olah orang selamat atau benar hanya dengan menyatakan prihatin). Keselamatan ada pada mereka yang menaruh harapan pada relasi cintanya dengan Sang Kuasa.

Orang yang relasinya dengan Tuhan itu waras tak akan lari dari dunia, tak tutup mata, tetapi juga tak mengandalkan kekuatannya sendiri dalam menata hidup yang amburadul ini. Maka, mengangkat muka adalah ungkapan bernuansa harapan. Itulah nasihat dari Carlo Martini: jadilah pribadi yang hidup dalam harapan, yang bisa senantiasa mempersaksikan kelebihan janji Allah, yang membebaskan kita dari setiap penjara kejahatan dan ketakutan pada kematian dan memampukan kita move on dengan kepercayaan diri, dengan sikap lepas bebas terhadap harta duniawi, dengan keyakinan yang lebih kuat daripada kegagalan, penganiayaan atau kekalahan.

Manusia yang sungguh hidup, entah apapun profesinya, energinya tak dikuras oleh keprihatinan, tetapi dibesarkan oleh harapan bahwa Tuhan, yang tak bisa dipersekutukan dengan harta dan kekuasaan duniawi, senantiasa merentangkan tangan untuk merengkuh setiap orang yang beriman kepada-Nya. Problemnya cuma tinggal ‘memastikan’ apakah orang memang beriman, menyembah Allah, atau menyembah ilah.

Tuhan, tambahkanlah harapan kami kepada-Mu lebih daripada kepada dunia yang penuh PHP.


KAMIS BIASA XXXIV
Peringatan Wajib S. Andreas Dũng Lạc
24 November 2016

Why 18,1-2.21-23;19,2-3.9a
Luk 21,20-28

Posting Kamis Biasa XXXIV B/1 Tahun 2015: Berpikir Positif? Maksudnya?
Posting Kamis Biasa XXXIV Tahun 2014: Tunggu Gak Pake Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s