Sabaran Kuda

Sewaktu klik share posting dua tahun lalu di medsos, saya baru ngeh bahwa dari bacaan hari ini sudah dua posting dijuduli dengan kata ‘sabar’. Apa ya hari ini perlu dijuduli dengan kata ‘sabar’ biar jumlahnya ganjil ya? Oke nanti coba saya juduli ‘sabaran kuda’, siapa tahu ada yang protes [Ge eR amat, sapa lu? Cuma nyindir istilah ‘l*baran kuda’ aja trus gede kepala gitu – Ya gak apa, daripada lu mau nulis lebaran aja pakai bintang segala. Mentang-mentang dah langsing gitu po?].

Teks hari ini adalah bagian dari bacaan 10 hari yang lalu. Sebagian orang mungkin mencocokkan kalimat dalam teks ini dengan sosok cagub tersangka, dengan dalih memang biasanya kebenaran mengundang banyak lawan, terutama mereka yang bermental korup atau yang kepentingannya dirongrong oleh cagub tersangka ini. Memang kebenaran senantiasa mengundang reaksi negatif dari mereka yang berjiwa serakah, tetapi soal mencocokkan cagub tersangka sebagai sosok yang klop dengan teks hari ini lain soalnya.

Orang bisa mengklaim dengan ayat suci seperti diserukan oleh Paulus: bukan aku lagi yang hidup, melainkan Dia yang hidup dalam aku! Seruan itu sendiri tidak membuat isi kalimat itu operasional dalam diri orang yang menyerukannya. Orang yang berseru-seru ‘Tuhan’ atau ‘Oh my God!’ (megat megot aje lu!) tidak selalu dalam keadaan memanggil atau menyapa Tuhannya, bisa jadi ia malah sedang bersekongkol dengan setan. Alasannya: Tuhan tak pernah bisa dijadikan objek mutlak pikiran kita. Maka, meskipun orang menandaskan bahwa ia hendak menjalankan kehendak Allah, apa yang dilakukannya tidak otomatis merupakan kehendak Allah. Perlu evaluasi kritis.

Njuk apa hubungannya dengan ‘sabaran kuda’ je, Rom? O ya itu kalau orang berusaha menegakkan kebenaran dan keadilan, dia memang akan mendapat tentangan dan biasanya orang memberi petuah: yang sabar ya, tabahkan hati, jangan takut, dan sejenisnya. Mari kita ukur ‘sabaran manusia’ atau ‘sabaran kuda’. Lah gimana ngukurnya je, Rom? Saya juga tak tahu. Mungkin dibutuhkan suatu alat bernama sabarologi. Di ujung kiri sabarologi itu satuannya ‘kuda’ dan di ujung kanan satuannya ‘manusia’.

Kapan jarum sabarologi menunjukkan ujungnya pada kuda? Yaitu ketika yang diukur menghayati kesabaran sebagai toleransi: seberapa jauh orang bisa toleran terhadap penganiayaan, penyiksaan, penderitaan; seberapa jauh orang menerima ketidakcocokan atau kesalahan orang lain. Di sini orang ngampet, menahan sesuatu, dan perilaku ini bisa suatu saat seperti waduk yang jebol. Jarum sabarologi menunjukkan ujungnya pada manusia ketika yang diukur itu memahami dan menghidupi kesabaran sebagai buah dari suatu hidup di hadirat Allah, sebagai buah Sabda Allah yang mendaging.

Kembali ke kisah Ahong, barangkali lebih jelas. Si pencerita sebenarnya sudah di ambang batas kesabarannya ketika hendak menggebrak meja. Apa yang menghancurkan ambang itu? Suara batinnya, tempat Allah berseru dan ia mendengarkan suara itu. Kesabaran adalah buah dari tanggapan orang terhadap suara Allah sendiri. Dengan kata lain, kesabaran juga adalah rahmat, bukan kekuatan diri untuk toleran atau menantikan waktu dengan sikap arogan sampai orang lain melihat kesalahan yang kita tunjukkan. Kesabaran adalah kerendahan hati. Toleransi, saya curiga, menyembunyikan arogansi.

Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati.


RABU BIASA XXXIV
23 November 2016

Why 15,1-4
Luk 21,12-19

Posting Rabu Biasa XXXIV B/1 Tahun 2015: Mosok Sabar Melulu
Posting Rabu Biasa XXXIV Tahun 2014: Sabar, Brow!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s