Penggusur Bait Allah

Sejarah dihiasi karya-karya jenius manusia: karya seni, bangunan dengan arsitektur megah, yang memanifestasikan niat manusia untuk membangun monumen-monumen besar yang mengagumkan. Akan tetapi, ada juga manusia yang, barangkali jenius, hobi menghancurkan, menggusur monumen-monumen seperti itu, tak pandang karakter seni atau sejarahnya. Bodo’ amat, yang penting tujuannya tercapai, dan tujuan menghalalkan cara!

Komentar Yesus terhadap bangunan Bait Allah yang dikagumi beberapa orang di dekatnya: Apa yang kamu lihat di situ akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan (Luk 21,6 ITB). Apa dia tukang ramal ya? Entahlah, pokoknya dia komentator, cuma cara dia berkomentar itu memang khas. Ia senantiasa memandang kenyataan dengan perspektif yang inspiratif. Ia tidak menolak kemegahan Bait Allah sebagaimana monumen-monumen buatan tangan manusia lainnya. Akan tetapi, ia menunjukkan kerapuhan di balik keagungan monumen yang dibangun manusia.

Mungkin maksud komentarnya kira-kira,”Jangan ndeso, jangan kelamaan ndomblong, jangan kelamaan terkagum-kagum. Sudah cirinya bahwa di dunia ini ada yang hobi membangun monumen, tetapi juga ada yang senang berperang melawannya.” Perang dan kekerasan bukanlah tanda kekalahan Allah, juga bukan hukuman dari-Nya, bukan pula tanda kiamat, melainkan undangan pada pertobatan, supaya orang sungguh masuk ke dalam yang esensial dan tak membiarkan diri digalaukan oleh hal-hal yang sifatnya contingent: bisa ada, bisa juga gak ada, bisa berubah. Artinya, sifatnya sementara.

Sifat contingent dunia ini memberi tempat pada penggusur. Tindakan menggusurnya masuk dalam logika kekuasaan: yang kuatlah yang menang. Kalau yang kuat itu adalah mereka yang cinta kerapian, ya digusurlah yang berantakan, tetapi cara penggusuran itu taken for granted, entah melanggar hukum, prinsip kemanusiaan atau tidak. Orang terbuai oleh yang ‘waw’ dengan tolok ukur seperti kota lain di planet lain dan berusaha merealisasikannya seolah-olah orang-orang dan kultur di sini seperti kota lain di planet lain itu. Ya itu tadi, seolah-olah tujuan menghalalkan cara.

Komentar Yesus mengenai penggusuran Bait Allah menunjukkan sikapnya terhadap contingency bangunan fisik yang diagungkan banyak orang. Arogansi masyarakat yang didominasi oleh kekuasaan teknologi punya risiko untuk mengalineasikan kemanusiaan sendiri. Silakan tonton film Charlie Chaplin berjudul Modern Times dan lihatlah betapa teknologi bertendensi mencederai kemanusiaan sendiri. Cedera inilah yang memungkinkan aneka intrik dan perseteruan yang membuat sebagian orang tergusur. Satu hal yang digambarkan terus awet: relasi kemanusiaan. Itulah yang bagi orang beriman merupakan kualitas hidup yang datang dari Allah sendiri: kebenaran, kebaikan, keberanian, harapan, belas kasih. Ini takkan tergusur, senantiasa mencari saluran untuk mengungkapkan diri.

Konon ada pepatah India: hidup ini seperti jembatan, seberangi saja, tapi jangan membangun rumah di atasnya. Betul, hidup ini peziarahan dan kalau bikin ‘rumah’ dalam peziarahan itu, orang cenderung tidak menyelesaikan ziarahnya. Dah nyaman di situ kok.

Ya Allah, mohon rahmat kebebasan-Mu supaya kami tak tersangkut kemegahan dunia dan mengabaikan peziarahan kemanusiaan kami. Amin.


SELASA BIASA XXXIV
Peringatan Wajib S. Sesilia
22 November 2016

Why 14,14-19
Luk 21,5-11

Posting Selasa Biasa XXXIV B/1 Tahun 2015: Tanda Kiamat
Posting Selasa Biasa XXXIV Tahun 2014: Iman Doraemon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s