Tanda Kiamat

Sekali dua kali apes mungkin tak bikin eksistensi Allah terganggu. Tiga empat kali nasib buntung barangkali memancing orang berpikir mengenai eksistensi Allah. Lima enam kali hidup susah menderita kiranya membuat orang menggugat keberadaan Allah. Tujuh kali kesialan bikin orang tak percaya lagi kepada Allah.

Tak perlu meributkan angka ya. Kan kemarin sudah dibilang bahwa kuantitas bukan kriteria utama. Poinnya, penderitaan hidup manusia bisa mengesankan bahwa Allah absen dari hidup manusia. Apalagi dalam malapetaka besar, orang bisa beranggapan bahwa Allah kehilangan kontrol-Nya atas dunia ini; atau malah lebih sadis lagi, orang berpikir bahwa Allahlah yang membuat malapetaka itu.

Saat Tuhan tampak absen itu, nasihat bijak bersifat apokaliptik. Apokalips umumnya dimengerti sebagai akhir zaman, yang tetap misterius kapan terjadinya. Kata apokalips sendiri berasal dari bahasa Yunani yang bisa dipahami sebagai penyingkapan tabir misterius itu. Nasihat bijak apokaliptik mendorong orang untuk menerangi situasi desperate dengan iman sedemikian rupa sehingga mereka tak kehilangan harapan dan punya keberanian untuk menjalankan style of life mereka.

Buah visi apokaliptik itu tampak misalnya dalam ungkapan orang,”Tuhan punya rencana yang lebih baik lagi.” Kalau nantinya kena sial lagi, orang berkata lagi,”Dia punya rencana yang lebih indah.” Begitu seterusnya. Pokoknya, visi apokaliptik menempatkan setiap momen dalam seluruh rencana besar Allah (yang tak diketahui orang persisnya bagaimana). Nah, tahap akhir sebelum berakhirnya zaman itu rupanya juga merupakan masa krisis dan penderitaan, yang bisa jadi air keruh untuk dipancing oleh kekuatan jahat.

Injil hari ini memulai wacana apokaliptik. Bahasanya terasa garing dan membingungkan, tetapi untuk jemaat perdana dulu ungkapan itu dibutuhkan sebagai penyemangat hidup saat dihantui aneka ancaman dan teror. Itulah buah ungkapan kesaksian iman seseorang bahwa Tuhan senantiasa menyertai umat-Nya juga dalam bersusah payah menanggung deritanya.

Wacana apokaliptik di sini disampaikan sebagai jawaban Yesus atas pertanyaan kapan Bait Allah nan megah indah itu akan hancur. Garing kan, ditanya kapan malah jawabnya, “Hati-hati, jangan sampai tertipu!” Tapi ya maklumlah, itu kan cuma awal jawabannya. Intinya sih Yesus ya gak tau. Dia cuma bisa kasih tanda-tanda: pengakuan Mesias palsu, perang dan revolusi, gempa bumi, bencana, kelaparan, tanda-tanda heboh di langit. Hal-hal itu memang terjadi, tapi kok gak kiamat-kiamat juga?

Mohon ingat, Yesus hidup tahun berapa, Kitab Suci ditulis tahun berapa. Pada selisih waktu itu kejadian yang disebutkan Yesus memang terjadi: perang, di sana sini ada yang mengklaim diri penyelamat dan nabi palsu, gempa bumi kerap terjadi. Ini kan sekarang tak perlu diproyeksikan ke depan dengan meyakini bahwa kalau ada pengakuan nabi palsu, perang dan revolusi, gempa bumi, bencana dan lain-lain, itu berarti kiamat tinggal dalam hitungan hari!

Lha wong justru itu pesannya je: kalau ada gempa, perang, dan sebagainya itu, jangan sampai disesatkan oleh nabi palsu yang menentukan kapan hari kiamat. Pun kalau UFO teridentifikasi, tak perlu galau dan jadi sibuk dengan spekulasi UFO sedemikian rupa sehingga malah melupakan kemanusiaan (dan UFO bisa diganti dengan ‘agama’, ‘bisnis’, ‘politik’ dan lain sebagainya) dan kemanusiaan jadi kiamat betulan.

Ya Tuhan, mohon kebijaksanaan supaya aku mampu meletakkan setiap momen dalam terang panggilan-Mu. Amin.


HARI SELASA BIASA XXXIV B/1
24 November 2015

Dan 2,31-45
Luk 21,5-11

Posting Tahun Lalu: Iman Doraemon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s