Perut Penuh, Hati Kosong

Orang mungkin dengan mudah mengerti ungkapan “Nehmen füllt die Hände; Geben füllt das Herz” atas jasa situs terjemahan online. Kalimat ini disodorkan oleh Margarete Seemann. Siapa dia? Saya gak kenal secara pribadi, cuma tahu dari halaman daring alias dalam jaringan (internet). Ungkapan itu bisa jadi benang merah untuk refleksi hari-hari ini: Mengambil akan memenuhi tangan; sedangkan memberi akan memenuhi hati.

Tentu rasio pembaca bisa menyodorkan aneka pertanyaan atau kritik: bergantung apa yang diambil, kalau yang diambil hati mosok tangannya penuh hati! Akan tetapi, pesan kebijaksanaan mengatasi tempurung logika untuk mendarat pada kebenaran yang sesungguhnya, yang hendak diungkap oleh kata-kata yang serba terbatas. Teks hari ini menyodorkan dua model orang yang memberikan persembahan di Bait Allah. Yang satu memberi dari kelimpahan, yang lain memberi dari kekurangan. Yesus memberi komentar (sepertinya dia ini juga demen komentar ya?) dan penilaian bahwa si janda, yang memberi dari kekurangan itu, malah memberi lebih banyak daripada yang lainnya.

Kalau sudah omong soal kuantitas, ini mesti soal kalkulasi fisik dan mudah dimengerti juga oleh anak Sekolah Dasar: 4/5 lebih besar daripada 1/1000 meskipun 1000 jauh lebih besar daripada 5. Tetapi apakah komentar Yesus ini adalah penilaian terhadap kuantitas? Domain Kitab Suci bukan hitung-hitungan aljabar? Yesus bukan guru matematika atau sains, meskipun ia bisa jadi memanfaatkan sains pada zamannya yang diperoleh dari kebijakan lokal. Ia adalah guru iman. Maka, kalau dia berkomentar tentang dua orang yang memberi uang persembahan itu, ia tidak sedang mengevaluasi berapa banyak duit persembahan yang disampaikan si anu atau si inu, mana yang lebih besar, layak atau tidak jumlah segitu itu.

Sebagai guru iman, meskipun ia menggunakan keterangan komparatif jumlah, fokus perhatiannya tidak terletak pada kuantitas, tetapi pada kualitas hidup, pemaknaan, kebahagiaan sejati, yang ada dalam perspektif berbeda. Ini soal tindakan memberi, hidup beriman: bagikanlah, hadiahkanlah, persembahkanlah, tuangkanlah hidup (lagi) sebagaimana dibuat oleh guru-guru hidup beriman. Klop dengan peringatan yang disodorkan Gereja Katolik hari ini: Maria dipersembahkan kepada Allah. Artinya, hidupnya diberikan kepada Allah. Hidup seperti inilah justru yang bergelimangan makna: Nehmen füllt die Hände; Geben füllt das Herz.

Tuhan, semoga kami semakin terarah pada pemuliaan-Mu dalam sepak terjang hidup kami. Amin.


SENIN BIASA XXXIV
Peringatan Wajib SP Maria Dipersembahkan kepada Allah
21 November 2016

Why 14,1-3.4b-5
Luk 21,1-4

Posting Senin Biasa XXXIV B/1 Tahun 2015: Cowok Matre’
Posting Senin Biasa XXXIV Tahun 2014: Totality Makes A Difference

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s