Hening

Rumah simbah saya tak berpagar. Orang bisa lalu lalang melewati pekarangan tanpa minta izin dulu pada simbah saya, kecuali kalau dia ada di beranda, orang yang lewat akan menyapa dan bilang ndherek langkung alias permisi numpang lewat, dan simbah saya tak pernah melarang orang lewat di pekarangannya. Rasanya bebas sekali seperti tak ada garis demarkasi wilayah publik dan privat di pekarangan rumahnya. Bahkan pencuri dan pemulung boleh masuk ke pekarangan, dan kalau beruntung, bisa juga masuk ke dalam rumah karena pintunya bisa didobrak tanpa banyak kesulitan. Betapa damainya hidup ini, tak ada ketakutan, tak ada kekhawatiran. 

Akan tetapi, saya sadar, ketakutan dan kekhawatiran itu absen karena memang di rumahnya tak ada barang yang layak dicuri. Duit adanya di bank. Kulkasnya jadul berat banget. Televisinya, tipi tabung 15 inch. Motor dibawa pergi om saya [ngapain pergi bawa-bawa motor segala, repot amat]. Jadi, apa yang mau ditakutkan dan dikhawatirkan hilang oleh simbah saya? Kuali, sothil, panci, kayu bakar? Gak ada. Ora pathè’ên, itu semua hilang ya bisa pinjam tetangga atau beli atau cari lagi. Jadi, simbah saya ini hidup damai tenang, terbebas dari aneka ketakutan karena tak punya apa-apa. Itu tak mengherankan saya.

Lain waktu, saya pernah bepergian ke kota satelit di sebelah barat ibu kota dan rumah-rumahnya, buju buné dah, berasa di Eropa! Jelek-jelek gini saya pernah tinggal di beberapa negara Eropa loh [untuk melihat dengan mata kepala sendiri hasil eksploitasi mereka terhadap negara jajahan – dan saya teringat Freeport]. Yang mengagumkan, rumah-rumah itu tanpa pagar sejengkal pun. Ada sih patok beton bercat putih tetapi itu adalah lampu taman pekarangan. Pokoknya jempol deh. Rasanya bebas sekali seperti tak ada garis demarkasi wilayah publik dan privat di pekarangan rumah. Betapa damainya hidup ini, tak ada ketakutan, tak ada kekhawatiran.

Akan tetapi, saya sadar, damai tenang itu dibayar dengan perangkat CCTV [dan saya teringat berita instalasi jutaan CCTV di China], pagar kompleks yang tinggi menjulang, dan pengamanan ketat di pintu gerbang sehingga pencuri dan pemulung tak mudah berlalu lalang di pekarangan [kecuali pencuri dan pemulungnya warga kompleks itu sendiri atau tamu seperti saya]. Artinya, ketakutan dan kekhawatiran itu didelegasikan pada operator CCTV atau petugas keamanan kompleks, seperti energi yang tak bisa dilenyapkan, cuma dipindahkan atau digeser saja, dan wujudnya adalah kuat-kuatan, power relation, siapa yang menang, dialah yang bisa memindahkannya pada subjek lain. Padahal, katanya, energi, meskipun tak bisa dilenyapkan, bisa diubah.

Kalau kekhawatiran dan ketakutan itu memang energi, bagaimana bisa diubah jadi kedamaian dan ketenangan yang bukan monopoli orang miskin seperti simbah saya atau orang kaya berjuta-juta CCTV?
Dari teks hari ini saya mengingat kembali kata kunci: detachment, alias pembebasan dari attachment. Kehancuran Yerusalem tak terelakkan, tak perlulah orang terlekat padanya. Memang butuh kerendahhatian, dan saya ragu, mungkinkah orang rendah hati tanpa iman?

Tuhan, mohon rahmat keheningan supaya kami terbebas dari aneka kekhawatiran dan ketakutan. Amin.


KAMIS BIASA XXXIV B/2
29 November 2018

Why 18,1-2.21-23;19,2-3.9a
Luk 21,20-28

Kamis Biasa XXXIV C/2 2016: Pernah Di-PHP Tuhan?
Kamis Biasa XXXIV B/1 2015: Berpikir Positif? Maksudnya?

Kamis Biasa XXXIV A/2 2014: Tunggu Gak Pake Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s