Ya Ampun PMP Lagi

Saya adalah pendukung Garuda Pancasila. Saya hafal lagunya, dan saya berusaha mewujudkan substansinya, tetapi saya bertekad untuk tidak mengulangi lagi pelajaran Pendidikan Moral Pancasila maupun Penataran P4. Plis deh. Ini suara darah muda yang memorinya masih kuat dengan kebobrokan Orde Baru.
Loh, memangnya PMP dan Penataran P4 itu bagian kebobrokan Orde Baru?
Lha iyalah, mosok bagian kebobrokan pemerintahan Jokowi?
Bukan, maksud saya itu, bukankah maksud pelajaran PMP dan Penataran P4 itu baik?
Betul, tetapi Anda tahu, maksud baik saja tidak cukup. Tak sedikit orang yang punya maksud baik ternyata dimanipulasi orang yang bermaksud jahat. Tidak perlu juga berburuk sangka deh. Gampangnya, maksud baik, kalau dilakukan dengan cara yang buruk, tujuannya tak tergapai.
Oh, jadi Romo mau bilang PMP dan Penataran P4 itu bukan cara yang baik, begitukah?
👏🏻Anda layak dapat bintang⭐️ atau bidadari-bidadara👩🏻🧑🏻.
Trus, cara yang baik kayak gimana?
Lhaaaa, jangan-jangan Anda korban PMP dan Penataran P4 juga ya 😝ujug-ujug tanya konkretnya yang baik gimana. Mestinya Anda tanyakan dulu mengapa PMP dan Penataran P4 itu saya bilang bukan cara yang baik.
😡Ya udah, terserah dah! Kenapa pelajaran PMP dan Penataran P4 itu bukan cara yang baik?
Karena dulu materinya diberikan dengan cara indoktrinatif. Kalau ajaran moral diberikan sebagai indoktrinasi, hasilnya pasti tak berakar. Jangan lupa, para anggota Dewan yang terhormat yang korup yang tumpul yang amburadul itu juga adalah produk pelajaran PMP dan Penataran P4 loh! Dengan kata lain, PMP & P4 bukan jaminan. Kalau ada anggota Dewan yang terhormat yang tidak korup dan lain-lain, itu bisa jadi memang modalnya sudah bagus, juga kalau tidak diberi pelajaran PMP dan Penataran P4.
Oh, jadi kalau pelajaran PMP dan Penataran P4 itu diberikan bukan dengan cara indoktrinatif, Romo oke-oke aja ya?
Enggak juga sih.
😡 Maksud lu?
Saya lebih setuju kalau substansinya diintegrasikan dengan pelajaran lain.
Kenapa? Gak suka terlalu banyak guru yang kelak akan bergaji 20 juta gitu? Gak suka lahan pekerjaan orang lain dibuka gitu?
Bukan gitu, tapi gini. Masih ingat kan kapan Penataran P4 itu dihentikan? Menjelang keruntuhan Orde Baru. Pada masa Orde Baru itu, marak gak gerakan khilafah? Enggak, karena rezimnya, meskipun sangat halus, sangat represif. Gerakan radikal susah bernafas. Nah, begitu reformasi dimulai, iklim kebebasan merebak ke mana-mana, termasuk gerakan khilafah yang terpendam sejak zaman kemerdekaan.
Njuk apa hubungannya dengan integrasi pelajaran ya?
Mari lihat lagi bagaimana gerakan khilafah itu populer: lewat indoktrinasi agama. Kenapa ide itu mudah melekat dan relatif awet untuk indoktrinasi? Karena dalam agama ada konsep atau paham Allah yang bertendensi jadi representasi dari Yang Mutlak. Siapa yang tak mau dapat jaminan surga damai kekal setelah kematian dari Yang Mutlak? Nah, ini pikiran nakal saya: mengapa tidak dibuat saja kurikulum Pancasila-based religious education?
Dengan kata lain, Romo usul Pancasila menunggangi agama gitu?
Anda dapat bintang lagi⭐️. Sebagaimana agama ditunggangi politik (bahkan yang kotor) di negeri masih marak, mengapa Pancasila tidak boleh menunggangi? Menurut saya, Pancasila lebih mulia daripada politik kotor genderuwo sontoloyo.
Dengan begitu, pendidikan agama berbasis Pancasila jadi ajang pertarungan melawan penganut agama nan arogan yang berkeyakinan bahwa agamanyalah the best religion in the world.

Jadi, sekadar menegaskan: dekadensi moral bangsa tidak disebabkan oleh hilangnya kurikulum PMP dan Penataran P4 (mengingat bahwa perusak moral bangsa adalah mereka yang dulu mengikuti pelajaran PMP dan Penataran P4 sejak SD sampai kuliah!), melainkan meredupnya visi NKRI yang dibangun founding fathersnya. Kenapa bisa meredup? Pasti banyak faktor, tetapi sikap dasar mental koruptor saya duga jadi akarnya: apa yang bisa kurampas dari negeri ini.
Andai saja seluruh bangsa bisa berpikir sebaliknya: apa yang bisa kuberikan bagi negeri ini……

Adik kelas saya pernah menuturkan kultur Pela Gandong di Maluku setelah konflik berdarah dua dekade lalu antara Islam dan Kristen. Mereka belajar banyak dari pengalaman itu dan saya kira hasil belajarnya luar biasa. Ini bukan lagi soal toleransi, melainkan soal menerima dan bahkan memberikan sesuatu kepada mereka yang berbeda. Di situ, arogansi agama diruntuhkan dan kemanusiaan dimuliakan, tidak melalui PMP atau penataran P4. Moral bukan lagi indoktrinasi produsen kemunafikan, melainkan praktik yang dihidupi bersama. Jadi, plis deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s