Agama Penjajah

Bang Denny Siregar penyeruput kopi pernah menyampaikan pujiannya atas kedewasaan umat Kristen ketika muncul gambar tempe berbungkus kertas Kitab Suci pada blog pribadinya di tautan ini. Memang dalam teks hari ini dikatakan: Tetapi… kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa… Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. (Luk 21:12-13 ITB) Persekusi bukan hal ‘tuk diratapi, melainkan ajang ‘tuk bersaksi, ciyeh.

Maka, tak mengherankan bahwa Ahok memilih menuntaskan masa tahanannya. Menurut nyinyiran oknum berinisial FH, itu terpuji, cuma sayangnya tidak dijalani di Lembaga Pemasyarakatan biasa. Andaikan Ahok dipenjara bersama para bajingan sontoloyo, mungkin beginilah pikiran oknum FH itu, bisa jadi ia tak tahan untuk menanti sampai bebas murni. Tentu FH bebas berkicau dan saya punya hak juga untuk berbeda pendapat. Menurut saya, bagi orang yang sudah keukeuh dengan moto “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan”, Mako Brimob dan Nusakambangan sebagai tempat tahanan tak punya perbedaan ontologis (horotoyoh apa maneh ki istilah?). Gak ngefek Bro, karena di mana pun ia berada, orang seperti itu akan memperlakukan hidupnya sebagai ajang untuk bersaksi.

Nah, problemnya sekarang ialah, kalau Anda meletakkan agama sebagai kategori yang sepadan dengan kategori ruang-waktu ala Immanuel Kant, Anda akan segera berpikir bahwa itu jadi ajang bagi Ahok untuk mempersaksikan Kristus dan Kristus itu diidentikkan dengan agama Kristen!

Bisa saja Ahok terang-terangan mengatakan bahwa ia sedang melakukan Kristenisasi. Fine! Apakah saya tertarik untuk jadi pemeluk agama Kristen? Sama sekali tidak! Saya ingat Mahatma Gandhi, yang meskipun punya idola Yesus Kristus tetapi tak sudi memeluk agama Kristen. Maklum, karena kekristenan membawa kultur tertentu dan kultur itulah yang membuat Gandhi tak bersimpati pada agama Kristen.

Teks bacaan hari ini mengingatkan saya pada sejarah ‘agama besar’ yang menindas ‘agama kecil’ dengan label primitif, kanibal, tak manusiawi, animisme/dinamisme, dan lain sebagainya. ‘Agama besar’ itu semula adalah ‘agama penguasa kekaisaran Romawi’. Penganut ‘agama kecil’-nya adalah pengikut Guru dari Nazareth dan bagi penganut ‘agama kecil’ inilah wejangan teks hari ini diberikan. Akan tetapi, sejarah berputar dan ‘agama kecil’ ini mendompleng kebesaran kekaisaran Romawi sampai menjadi ‘agama besar’, yang kemudian merebak ke mana-mana dan menindas ‘agama kecil’ di tempat lain dengan label kafir, kuno, terbelakang, dan sejenisnya. Arogansi ‘agama besar’ itulah yang jadi biang penyakit; menggusur ‘agama kecil’ yang sejatinya malah punya kearifan untuk menjaga harmoni unsur-unsur ekologis yang dibutuhkan seluruh makhluk.

Jangan-jangan, kesaksian yang dibutuhkan sekarang ini mesti terhubung dengan problem ekologis itu. Kalau tak sinkron dengan perawatan bumi sebagai rumah tinggal bagi semua makhluk, entah yang diwartakan itu Kristus atau agama rahmat bagi semua, itu cuma nyinyiran mbèlgèdhès ala agama narsis.

Semoga dalam ‘agama-agama besar’ masih ada banyak umat yang berani menempatkan diri sebagai penganut ‘agama kecil’ yang berpihak pada kemanusiaan dan rahmat bagi semua makhluk, dan berani menanggung risikonya. Amin.


RABU BIASA XXXIV B/2
28 November 2018

Why 15,1-4
Luk 21,12-19

Rabu Biasa XXXIV A/1 2017: Hakim Sendiri
Rabu Biasa XXXIV C/2 2016: Sabaran Kuda
Rabu Biasa XXXIV B/1 2015: Mosok Sabar Melulu

Rabu Biasa XXXIV A/2 2014: Sabar, Brow!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s