Perlu Belajar dari Monyet?

Di hadapan sekian puluh monyet yang duduk-duduk menonton kami yang sedang makan dan minum, saya bertanya pada teman yang adalah seorang filsuf,”Monyet-monyet itu, apa yang mereka lakukan di situ sepanjang hari ya? Mereka tidak saling bicara, seperti tak ada planning untuk hidup mereka.”
Jawab teman saya,”Mereka itu kan tidak punya konsep waktu, jadi tidak relevan omong soal tujuan hidup juga. Mau ngapain aja terserah ke mana insting mereka bergerak.”
Betul juga, kalau di kepala ini tak tertanam kategori waktu ala Immanuel Kant, ngapain orang mesti ribut dengan planning hidup berikut implikasi moral sosial dan lain-lainnya? Cukuplah saat matahari terbit berburu makan dan setelah matahari terbenam tidur gasik seperti saya ini, hahaha.

Memang kalau orang tak punya konsep waktu, apalah artinya hidup ini selain untuk survival? Lupa hari, lupa tanggal, bisa jadi merepotkan, tetapi itu pun terjadi karena orang punya konsep waktu. Tanpa konsep waktu, orang juga tak bisa berpikir dengan kategori sebab-akibat. Anda tahu sendiri akibatnya kalau orang tak lagi bisa berpikir dengan kerangka sebab-akibat!

Teks bacaan hari ini bersinggungan dengan konsep waktu: ‘hari terakhir’. Menariknya, saya kasih tahu suatu rahasia tapi jangan bilang siapa-siapa ya: penulis Injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) itu sebetulnya percaya bahwa ‘hari terakhir’ itu sudah mulai dengan kedatangan Yesus Kristus. Maksudnya, itu sudah dimulai pada momen Allah mewahyukan Diri, yang sebetulnya sudah terjadi jauh-jauh hari sebelum Guru dari Nazareth dilahirkan. Dengan kata lain, ‘hari terakhir’ itu dicicil sejak hari pertama ketika Allah menyatakan Diri kepada manusia, lewat aneka cara, lewat aneka kitab, lewat aneka nabi.

Kalau begitu, poin pentingnya bukan kapan ‘hari terakhir’ itu selesai, melainkan apa yang dibutuhkan orang untuk menyelesaikan ‘hari terakhir’ itu. Pesan teks hari ini cukup jelas: jaminan masa depan dan keselamatan tidak terletak pada pembangunan bait suci yang megah, tidak terletak pada konstruksi manusia, bahkan yang religius (termasuk agama), tetapi hanya dalam perjumpaan orang dengan wahyu Allah tadi.

Oleh karena itu, orang harus berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu atau kebiasaan hidup yang tak menjamin perjumpaan itu. Anda boleh hafal Kitab Suci dari halaman satu sampai 2018, tetapi tanpa perjumpaan dengan Allah yang mewahyukan Diri itu, semua hafalan itu tiada guna. Anda bisa saja meniti karier jadi pastor dan uskup sebagai pemimpin Gereja, tetapi tanpa pertobatan, karier itu cuma omong kosong. Anda bisa juga meniti karier di dunia akademis sampai mentok sebagai profesor, tetapi tanpa pengabdian kepada kemanusiaan, ‘hari terakhir’ Anda tak terasa nikmat.

Di tengah hiruk pikuk tahun politik ini, sementara orang-orang kelihatan berjuang untuk survival (mungkin sudah berguru pada monyet-monyet tanpa konsep waktu), ada baiknya orang beriman mencari saluran pertobatan yang tepat dan tak termakan janji muluk, termasuk gaji guru 20 juta, eaaaaa. Tobaaaat.

Tuhan, mohon rahmat-Mu supaya kami tak silau pada kemegahan dunia termasuk kemegahan agama kami sendiri. Amin.


SELASA BIASA XXXIV B/2
27 November 2016

Why 14,14-19
Luk 21,5-11

Selasa Biasa XXXIV A/1 2017: Pamer? Kamu Iri Keleus
Selasa Biasa XXXVI C/2 2016: Penggusur Bait Allah
Selasa Biasa XXXIV B/1 2015: Tanda Kiamat

Selasa Biasa XXXIV A/2 2014: Iman Doraemon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s