Pamer? Kamu Iri Keleus

Sepertinya saya mesti mengucapkan terima kasih kepada pengacara kondang belakangan ini yang mengingatkan saya pada bacaan pertama hari ini (atau sebaliknya ya, dia saya ingat ketika saya mendengar bacaan hari ini?). Ceritanya lucu juga ada seorang raja yang meminta penasihatnya untuk mendeskripsikan mimpi si raja ini sekaligus menjelaskan maknanya! Lah, elu nyang ngimpi mosok gue yang disuruh tebak! Ini lebih parah dari Waktu Indonesia Berjanda! Parahlah, kalau orang bijak se-Babel itu tak ada yang bisa menguraikan apa mimpi si raja plus maknanya, mereka akan dibinasakan. Sableng!

Adalah Daniel yang kemudian menerima challenge dari Raja Nebukadnezar itu dan dengan tepat dia menguraikan mimpi sang raja: melihat patung yang dahsyat megah berkilauan, kepalanya dari emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, pahanya dari besi, kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat. Penjelasan Daniel tak usah saya ulang di sini, silakan baca saja sendiri ya. Dari deskripsi apa yang dilihat Raja Nebukadnezar itu saja sudah terlihat sesuatu yang janggal: bagaimana mungkin tanah liat bisa menanggung kemegahan paha ke atas itu?

Njuk kok Romo teringat pada pengacara kondang itu kenapa? Ikut kondangan po? Bukan, itu loh, mobilnya, motornya, tas branded-nya, dan semua-muanya yang memang mewah. Klaimnya, bukan maksudnya pamer, memang begitulah kenyataannya; memang punyanya itu kok, mau gimana lagi? Orang yang menganggap pamer itu saja yang iri karena tak mampu membeli semuanya itu; makanya, kalau mau bisa kayak gitu, kerja keras dongGitu juga kan yang disarankan Ahok? Oh iya, tapi kayaknya konteksnya beda ya: kalau mau gaji naik ya kinerjanya dinaikkan; dia tak singgung soal kenaikan gaji untuk beli apa.

Saya ya janjane iri hati sih, bukan pada apa yang dimiliki pengacara kondang itu, melainkan pada kemampuannya untuk mematikan sense hatinya terhadap kenyataan memprihatinkan di sekelilingnya: dampak korupsi bagi kesejahteraan rakyat, kesenjangan ekonomi, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Sepertinya asik juga ya kalau bisa tutup mata terhadap aneka ketertinggalan masyarakat dan berkubang dalam paradigma siapa cepat dia dapat, siapa kuat dia menang; tapi kok saya ini tak bisa juga menutup mata.

Saya ingat juga apa yang pernah dikatakan Paulus: harta kita ini ada dalam bejana tanah liat. Ada titik kerapuhan yang tahu-tahu, tanpa dinyana-nyana, bikin semuanya mak prol ancur ya ancur. Itulah mimpi Raja Nebukadnezar, tetapi juga apa yang disodorkan dalam bacaan kedua, bahwa apa yang terlihat megah itu toh akan luluh lantak. Masih ingat, kan, sawang sinawang pada Papa di Mana? Yang tampaknya menurutmu adalah perjuangan terhebat bagi cinta terbesarmu, yaitu keluarga, bisa jadi boomerang bukan dalam arti rentetan foto gaya loh!

Marilah berdoa supaya semakin banyak orang yang hatinya tersentuh cinta Tuhan sehingga tanggallah kelebayan cinta dirinya. Amin.


HARI SELASA BIASA XXXIV A/1
28 November 2017

Dan 2,31-45
Luk 21,5-11

Selasa Biasa XXXIV C/2 2016: Penggusur Bait Allah
Selasa Biasa XXXIV B/1 2015: Tanda Kiamat
Selasa Biasa XXXIV A/2 2014: Iman Doraemon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s