Hakim Sendiri

Beberapa waktu lalu, semester lalu tepatnya, di negeri ini dipopulerkan kata persekusi. Sebetulnya sih kata itu sudah sejak lama ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan arti “pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas”. Persekusi ini ada hukumnya loh: KUHP pasal 368 tentang pengancaman, pasal 351 tentang penganiayaan, dan pasal 170 mengenai pengeroyokan, misalnya. Itu pasal-pasalnya. Pelaksanaannya sih, saia no comment saja. Persekusi ini masih ada di berbagai belahan bumi dan biasanya bersangkut paut dengan keyakinan religius, apapun judul agamanya. Bentuknya bisa sangat halus, bisa sangat kasar.

Baik juga kiranya kalau hukum pidana macam yang tadi itu diimplementasikan baik-baik supaya orang tidak main hakim sendiri berdasarkan keyakinannya sendiri. Ngeri kan kalau dumeh saya gak suka anggur atau rokok lantas saya menggeruduk para peminum anggur atau perokok! Tak kalah mengerikannya orang yang menganggap agamanya adalah puncak evolusi dan bercita-cita luhur mempertobatkan orang yang masih berdoa dengan kemenyan di balik pohon besar dan berupaya membuat penganiayaan lewat jalur hukum!

Kalau sampai orang berpikir hendak melakukan persekusi, mungkin baiklah ia berhenti sejenak lalu mencurigai dirinya sendiri. Jangan-jangan, malah pihak yang hendak dipersekusi itu sedang menyampaikan pesan kebenaran! Sekurang-kurangnya itulah yang jadi indikator dalam teks yang disodorkan hari ini. Persekusi adalah hadiah kebenaran; orang yang mempersaksikan kebenaran menanggung konsekuensi persekusi itu. Jadi, di lain pihak, mereka yang mengalami persekusi sebetulnya punya momen yang baik untuk menegaskan bahwa dia ada dalam track kebenaran.

Kalau begitu, orang dalam track kebenaran kiranya tak melakukan persekusi dan mungkin, sebaliknya, malah menjadi objek persekusi. Menghindari persekusi bisa jadi justru memperlemah kesaksian akan kebenaran. Begitu kali’ ya? Saya masih sangat ragu bahwa kebenaran compatible dengan kekerasan.

Tuhan, mohon rahmat kesetiaan pada-Mu bagi mereka yang mengalami persekusi, semoga semakin dikuatkan untuk senantiasa menghidupi kebenaran-Mu. Amin.


HARI RABU BIASA XXXIV A/1
29 November 2017

Dan 5,1-6.13-14.16-17.23-28
Luk 21,12-19

Rabu Biasa XXXIV C/2 2016: Sabaran Kuda
Rabu Biasa XXXIV B/1 2015: Mbok Sabar Melulu
Rabu Biasa XXXIV A/2 2014: Sabar, Brow!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s