A Man Called Ahong

Apa yang bisa kita berikan kepada orang lain dari kelimpahan kita? Macam-macam: duit, kapital, kendaraan, hape, sembako, dan sejenisnya yang material gitu deh. Apakah berbagi atau membagi-bagikan yang material dari kelimpahan itu heroik atau baik? Bisa jadi, bergantung pada motivasi pemberinya dan mungkin dampaknya juga.

Akan tetapi, teks hari ini mengajarkan sesuatu yang berbeda dan sesuatu yang berbeda ini lebih membahagiakan: bukan memberi dari kelimpahan, melainkan memberi dari kekurangan. Janda miskin memasukkan dua peser tetapi sebetulnya hanya itu juga yang dia perlukan untuk hidupnya. Mengapa itu lebih membahagiakan? Entahlah, tetapi coba silakan Anda amat-amati saja dari pengalaman sendiri. Sewaktu Anda superfluous dengan duit atau barang lain dan Anda membagikan sebagian dari yang superfluous itu, Anda gembira, tetapi kegembiraan itu dilandasi rasa superior: saya mampu memberikan sesuatu, saya bersyukur dapat kelebihan rezeki yang bisa saya bagikan sebagai amal. Anda perhatikan bahwa subjek perhatiannya adalah ‘saya’ entah saya yang mampu atau saya yang bersyukur atau saya yang berbagi.

Akan tetapi, sekarang amatilah di saat Anda tidak mengalami keadaan superfluous atau bahkan sedang kesusahan. Pada saat Anda memberikan sesuatu kepada orang lain di saat kesusahan itu, subjeknya tetap ‘saya’, tetapi perhatiannya jauh lebih besar tertuju pada apa yang dibutuhkan orang lain dan kepentingan ‘saya’ diletakkan di bawah kepentingan liyan. Dalam teks bacaan hari ini, liyan itu adalah Sang Empunya Kehidupan sendiri dan pada momen itulah Anda mengalami kebahagiaan hidup yang terlepas dari kondisi superfluous atau kekurangan.

Dengan demikian, keutamaan yang ditawarkan teks hari ini berlaku untuk semua orang, apa pun keadaannya, entah kaya atau miskin, karena keutamaan ini terikat bukan pada materi yang bisa dimiliki orang, melainkan pada hal yang tak pernah bisa dimiliki orang: waktu. [Adakah di antara Anda yang bisa memiliki waktu?] Silakan lihat klip animasi berikut ini. Cuma sekitar dua menit.

Njuk apa hubungannya dengan judul bawa-bawa Ahong je, Rom? [Dah gitu featured image-nya bukan Ahong pula, kamsudnya opo je] Macam-macam alasan bisa saya sodorkan, tetapi saya ingat pernah cerita soal Ahong yang benar-benar memberi saya pelajaran berharga (Terima Kasih Ahong). Kepada waktu, orang beriman yang mau hidup bahagia tak bisa memberikan sampah, sisa-sisa, tetapi mesti memberikan apa yang substansial untuk hidupnya, entah kegembiraan, kecemasan, harapan, delusi, orang, afeksi, atau apa pun. Semoga mendapat rida Allah. Amin.


SENIN BIASA XXXIV
Peringatan Wajib S. Yohanes Berchmans SJ
26 November 2018

Why 14,1-3.4b-5
Luk 21,1-4

Senin Biasa XXXIV A/1 2017: Mencari Wajah Allah
Senin Biasa XXXIV C/2 2016: Perut Penuh, Hati Kosong
Senin Biasa XXXIV B/1 2015: Cowok Matre’

Senin Biasa XXXIV A/2 2014: Totality Makes A Difference

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s