Perda Injil 😂

Hidup bersemangat Injil tidak identik dengan hidup dalam aturan dan hukum yang diturunkan dari Injil. Pada kenyataannya, saya belum pernah melihat ada konstitusi yang merupakan terjemahan dari Injil dan saya kira memang takkan pernah ada konstitusi yang dibuat berdasarkan penafsiran Injil.

Itu berbeda dari konteks hidup agama Islam dan Yahudi, yang memang hukum agama mendapat tempat sentral. Itu mengapa sebagian saudara-saudari Muslim ngotot dengan syariat di Indonesia ini. Saya bisa memahaminya meskipun tidak menyetujuinya. Saya paham bahwa pemisahan agama dari negara itu memang membawa risiko sekularisme yang tentu saja sangat tidak kondusif bagi orang beragama. Akan tetapi, sambungan negara dan agama tidak harus lewat syariat, yang secara psikologis malah menimbulkan prasangka sosial di lingkungan umat beragama lain.

Ketidaksetujuan saya sih bukan pada prasangka sosial, yang kiranya tidak sangat sulit dipecahkan. Begini saja. Kalau saya punya hukum agama berbunyi ‘mengaku dosa setahun sekali’, tentu hukum itu mengikat nurani saya sebagai penganut agama tertentu. Akan tetapi, saya tetap punya kebebasan dan keyakinan saya berkembang dalam kebebasan itu. Lain soalnya kalau hukum agama itu dijadikan hukum negara: implementasinya diawasi aparatur negara dan konsekuensi pelanggarannya juga ditangani negara. Ha njuk ini saya taat pada hukum agama atau hukum negara ya? Saya beragama karena kesadaran dari dalam diri atau karena dipaksa negara ya? Bisakah orang beriman dalam keterpaksaan?

Selain itu, bisa jadi dalam satu agama ada beberapa aliran yang sangat memengaruhi orang menafsirkan teks sakral. Bukannya tidak mungkin bahwa itu malah menimbulkan potensi perpecahan untuk hal-hal yang sebetulnya tidak substansial. Tak terbayangkan dalam benak saya bahwa orang yang dianggap berpakaian tak sopan tak boleh masuk ke tempat ibadat dan pelanggarannya diberi sanksi cubit jambak sepuluh kali di depan alun-alun biar dipotret orang-orang yang berpakaian sopan.

Teks hari ini menyajikan diskusi dua raja dengan dua ranah berbeda. Sebutlah Pilatus sebagai representasi raja sekuler dan Guru dari Nazaret sebagai raja religius. Si raja sekuler bisa membunuh orang. Si raja religius tidak, malah dialah yang dibunuh; tetapi dari kematiannya tumbuh harapan akan kehidupan yang lebih langgeng daripada yang ditata oleh Pilatus.

Jadi ya sudah begitu saja deh. Kristus Raja Semesta Alam sama sekali bukan perayaan merajalelanya identitas agama Katolik, melainkan merajanya harapan akan kultur kehidupan. Tolok ukurnya bukan ada tidaknya perda Injil, melainkan hidup tidaknya semangat Injili. Itu mengapa dulu saya sitir penelitian mengenai negara yang sangat Islami meskipun tanpa perda syariat. Menurut saya, IMHO, lebih penting nilai substansial Islami meresapi hidup seluruh warga daripada ribut dengan label, dengan politik identitas.

Tuhan, ajarilah kami untuk mampu berbagi semangat hidup daripada mematikannya. Amin.


HARI RAYA KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM
Minggu, 25 November 2018

Dan 7,13-14
Why 1,5-8

Yoh 18,33b-37

Posting Tahun 2015: Di Sini, Bukan dari Sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s