2M God’s Killer

Saya terheran-heran sewaktu kemarin baca judul berita daring “Polisi heran Dahnil Baru Kembalikan Uang 2M Setelah Kasusnya Masuk Penyelidikan”. Saya terheran-heran bahwa polisi heran. Jangan-jangan polisi ini menganggap Dahnil itu nama…. aduh… tak tega saya menyebutkannya.
Soalnya, kemarin itu saya jadi sopir merangkap tour guide untuk sebuah field trip bagi para mahasiswa doktoral sebuah universitas negeri kota gudheg (semoga julukannya belum berubah) dan di salah satu spot salah satu mahasiswa yang menenteng kantong plastik berisi minuman dan cheese crackers mengalami semacam fusion of horizons gitu deh.

Jadi ceritanya begini. Di tempat asalnya itu yang namanya munyuk atau lutung alias monyet tidak akan berani kepada orang. Sebisa mungkin mereka menjauhi orang, mungkin karena trauma pada bangsa manusia yang hobi berburu monyet. Tak mengherankan, sewaktu ada monyet di dekatnya, ia tidak begitu memperhatikan bahwa kantung plastik yang dibawanya itu begitu menggiurkan bagi sang monyet. Horison yang dia punya ialah bahwa monyet itu tak berani macam-macam dengan manusia. Alhasil, dalam hitungan sekejap, monyet itu meraih kantung plastik dari bawah, merobeknya, membiarkan air mineral di dalamnya dan mencomot cheese crackersnya, lalu kabur. Sudah diteriaki untuk mengembalikan cemilan itu, tetapi ia dengan santainya melahap crackers itu di atas dahan pohon.
Tentu saja, ia tak akan mengembalikan crackers itu sebelum kasusnya masuk penyelidikan, bukan?😂 Jadi, sebetulnya polisi tak perlu heran. Saya malah heran kok polisi itu heran.

Eh, sebentar, sepertinya saya yang salah ding, karena kalau polisi itu heran, berarti ia malah menganggap Dahnil lebih punya martabat daripada bangsa munyuk tadi sehingga tak perlu masuk penyelidikan untuk mengembalikan 2M itu. Pak polisi baik sekali😍. 

Tapi, terlepas dari kebaikan polisi, kasus 2M itu sebetulnya cuma representasi tendensi manusia untuk membunuh Tuhan. Tak perlulah orang sekaliber Nietszche untuk membunuh Tuhan. Semua orang beragama punya wajah tersembunyi sebagai pembunuh Tuhan ketika ia berprinsip “asal gak ketauan ajalah“. Ada yang lebih ngeri lagi prinsipnya: daripada ketauan dianggap dosa, lebih baik cinta nan korup itu dilegalkan saja sekalian. Betapa nistanya hidup: dipakai untuk membungkam Tuhan.

Teks hari ini menggambarkan bagaimana orang Saduki hendak membungkam Guru dari Nazareth dengan opininya. Akan tetapi, apa mau dikata, memang beda kualitas antara orang beragama yang cuma mengandalkan opini, otaknya sendiri dan orang beragama yang sungguh punya pengalaman perjumpaan dengan Allah. Yang pertama mempertajam batas perbedaan bahkan terhadap hal yang sudah dalam kesatuan. Yang kedua jadi instrumen untuk kesatuan di hadapan aneka perbedaan. Itu makanya NKRI perlu dijaga, ya kan, Pak Polisi?

Tuhan, ajarilah kami untuk menjadi instrumen kesatuan daripada perpecahan. Amin.


SABTU BIASA XXXIII B/2
Peringatan Wajib S. Andreas Dūng Lac
24 November 2018

Why 11,4-12
Luk 20,27-40

Sabtu Biasa XXXIII A/1 2017: Bojomu Istriku
Sabtu Biasa XXXIII C/2 2016: Menuang Hidup
Sabtu Biasa XXXIII B/1 2015: Dewa Munafik

Sabtu Biasa XXXIII A/2 2014: Satu Tuhan, Salam Tiga Jari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s