Menuang Hidup

Teks tentang kawin mengawinkan/mengawini hari ini sudah dibacakan pada hari Minggu 6 November lalu, dua hari setelah demo yang keren itu loh. Ide refleksinya hari itu kira-kira berbunyi: manusia itu makhluk immortal (juga immoral sih) sejauh jiwanya terpelihara baik-baik dalam kompleksitas dimensi fisiknya. Fisik boleh ancur tapi jiwanya abadi, kecuali kalau roh-jiwanya dilekatkan pada fisiknya yang bersifat mortal itu.

Bagaimana orang mau melepaskan roh-jiwanya dari kelekatannya pada dimensi fisik itu? Dengan harakiri, bunuh diri, perang ‘suci’? Bukan, tindakan itu biasanya malah mengindikasikan suatu pemahaman semu tentang hidup ini. Detachment terhadap dimensi fisik itu dalam perspektif Kristiani merupakan suatu terang kebangkitan, suatu perspektif yang tidak bisa diterima oleh orang-orang Saduki. Mereka melihat bahwa hidup ini hanya punya satu dimensi dan dimensi itulah yang mesti dimaknai dengan apa yang ada saat ini dan di sini.

Semalam saya sempat melihat acara Kick Andy dan mendengar satu pesan kehidupan yang disodorkan nara sumbernya: hidup ini, kalau bisa dituangkan, tuangkanlah. Pesan ini muncul dari seorang arsitek yang sudah mapan di negara Eropa sekian puluh tahun, dan melanglang buana ke Afrika, akhirnya kembali ke tanah air untuk membaktikan hidupnya bagi warga tanah air.

Perkawinannya, tentu saja pada suatu kali merupakan upacara sakral: ikatan suci antara pria dan wanita. Sakralitas itu tidak berhenti di KUA atau gereja, tetapi terwujud dalam hidup keseharian mereka sebagai suami istri, dalam kesalingan merealisasikan cinta dengan segala komitmen dan dedikasi di segala lini kehidupan. Tetapi, kesatuan suami istri itu juga merupakan sesuatu yang ‘berlalu’, bukan hanya dalam arti setelah kematian fisik yang memisahkan, melainkan juga dalam arti seperti disampaikan nara sumber tadi: hidup ini, kalau bisa dituangkan, tuangkanlah. Hidup perkawinan pun tak bisa terus disimpan dalam belanga bagi kepenuhan dirinya sendiri. Tantangan dan kesulitan menghadang, tetapi justru itulah ujiannya.

Yang disodorkan nara sumber Kick Andy itu menggemakan nasihat Michel Quoist, seorang penulis, pastor Katolik, Perancis: kalau kamu mau hidup, jangan menggenggamnya bagimu sendiri. Hidup itu mesti merambah tepian lainnya, mengairi tanah lain. 

Orang yang tak percaya pada kebangkitan membangun makna dengan menjejalkan secara paksa seluruh ikatan fisik yang memberi sensasi narcisistik dan membuang jauh-jauh aneka penderitaan karena dianggapnya sebagai ketiadaan makna. Orang yang percaya pada kebangkitan merangkul penderitaan sebagai jalan realisasi cinta yang altruistik.

Tuhan, semoga kami dapat menuangkan hidup demi kemuliaan nama-Mu. Amin.


SABTU BIASA XXXIII
19 November 2016

Why 11,4-12
Luk 20,27-40

Posting Sabtu Biasa XXXIII B/1 Tahun 2015: Dewa Munafik
Posting Sabtu Biasa XXXIII Tahun 2014: Satu Tuhan, Salam Tiga Jari

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s