Agama Sarang Penyamun

Konon Yesus di Bait Allah berseru,”Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Seruan ini ditujukan kepada mereka yang berdagang di Bait Allah. Apakah mereka pedagang ilegal? Bukan. Sebagian berfungsi sebagai money changer sehingga peziarah bisa mendapatkan uang yang sah untuk persembahan. Yang lainnya menyediakan hewan persembahan sehingga peziarah tak perlu membawa sendiri jauh-jauh dari negerinya.

Kenapa kiranya ya mereka disebut penyamun? Hmmm… sebentar. Ini bukan bagian dari meletakkan masalah pada para pedagang di Bait Allah itu, seolah-olah Yesus cuma menghardik mereka pada zaman itu. Ini adalah teguran keras untuk orang-orang beragama yang memperdagangkan barang-barang atau hal-hal keilahian. Tapi, nanti dulu, ‘dagang’ ini biasanya dimengerti dengan kategori fisik: ada uang ada barang. Itu mengapa pembaca teks ini mengira yang disemprot Yesus adalah para pedagang di Bait Allah itu saja.

Memperdagangkan hal-hal ilahi, yaitu memperlakukan Allah sebagai agen asuransi, membuat MoU, do ut des, memang tak asing dalam agama. Bukankah tak jarang orang dalam hati berteriak-teriak “Aku sudah sering pergi ke gereja, kenapa tetap saja belum dapat jodoh”? Aku sudah berziarah ke sana kemari, tetapi kenapa sakitku tak kunjung sembuh? Aku sudah mematuhi seluruh perintah Kitab Suci, kenapa masih terkena celaka juga? Di banyak tempat ibadat, saat musim ujian tiba, attendance bertambah secara signifikan. Hari-hari dan tempat kebaktian yang dihubungkan dengan penyembuhan juga memiliki rating tinggi.

Begitulah memperdagangkan hal-hal ilahi. Orang mengejar kebahagiaan yang dengannya Tuhan mesti menyesuaikan diri. Sayangnya, mekanisme bisnis macam itu merampas autentisitas yang justru diperlukan orang demi suatu perjumpaan dengan Allah sendiri. Ironisnya, sarang penyamun paling safe justru adalah agama karena atribut ilahi dipandang lebih dekat dengan agama daripada non-agama. Penyamun-penyamun ini mendapat kekuasaan karena klaim agama yang sangat ditakuti oleh pengikutnya. Itu mengapa pembodohan justru paling gampang dilakukan dalam agama.

Sejarah Gereja Katolik menjadi saksi nyata mengenai pembodohan seperti itu. Sebelum Abad Pencerahan, orang-orang beragama rela bunuh-bunuhan dengan semangat membara hanya karena konsep dalam agama yang ide dasarnya adalah perdagangan hal-hal ilahi tadi. Ironis memang. Yesus mengkritik hidup keagamaan Yahudi, lalu pengikutnya membangun agama baru, dan dalam agama baru itu kemudian terjadi perpecahan dan muncul agama baru lagi dan dalam agama yang lebih baru itu terjadi juga yang jadi objek kritik Yesus sendiri: perjumpaan dengan Allah direduksi oleh penyamun agama. Agama jadi bisnis ekonomi, bisnis politik, bisnis kekerasan, bisnis kekuasaan.

Yesus mengusir penyamun yang bersarang dalam bangunan agama. Berhasilkah dia? Gak yakin saya, wong akhirnya dia sendiri mati karena ulah penyamun-penyamun itu! Siapa penyamun itu? Orang Yahudi? Ahli Taurat? Orang Farisi? Pemerintah? Swasta? Kelompok konservatif? Liberal? Di mana pun mereka mengotakkan diri atau dikategorikan, mereka adalah orang-orang berhati keras, yang isi kepalanya juga tak terbuka pada kemanusiaan yang tercabik-cabik oleh kekerasan hati mereka sendiri. Jauh di kedalaman lubuk hati, mereka ini adalah para penakut, pengecut yang butuh tameng bernama agama.

Tuhan, murnikanlah hati kami supaya bebas dari ketakutan dalam menghayati hidup keagamaan kami.


JUMAT BIASA XXXIII
18 November 2016

Why 10,8-11
Luk 19,45-48

Posting Jumat Biasa XXXIII B/1 Tahun 2015: Alasan Suci Memicu Kebencian
Posting Jumat Biasa XXXIII Tahun 2014: Bisnisku Bukan Bisnismu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s