Kulihat Ibu Pertiwi

Salah satu tembang populer pada masa demo 1998 ialah lagu Ibu Pertiwi: Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati. Air matanya berlinang, mas intannya terkenang. Hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan. Kini ibu sedang susah, merintih dan berdoa. Konon lagu itu diadopsi oleh Ismail Marzuki pada tahun 60-an dari melodi lagu rohani tulisan Joseph M. Scriven. Para demonstran 1998, tak peduli apakah mereka bersuara bagus atau jelek, menyanyikan lagu ini dengan bersemangat, dan tentu juga dengan keprihatinan atas kondisi bangsa yang saat itu dikuasai oleh hegemoni politik yang membuat kesenjangan semakin mencolok.

Santa Elisabet dari Hungaria yang diperingati Gereja Katolik hari ini memiliki keprihatinan besar juga terhadap kesenjangan antara kehidupan di istananya dan kehidupan masyarakat di luar istana. Konsekuensi dari keprihatinannya ini sangat riskan. Ia kerap membantu orang-orang miskin dan tindakannya ini dicurigai oleh keluarganya sebagai pemborosan atau pemelorotan kekayaan suaminya. Ia tak disukai oleh keluarga istana sehingga selepas kepergiannya untuk ikut Perang Salib, ia diusir dari istana tanpa bekal apa-apa. Ketiga anaknya dititipkan pada orang kepercayaannya dan ia sendiri bergabung dengan ordo ketiga Fransiskan. Elisabet semakin intensif untuk terlibat membantu kelompok masyarakat lemah.

Tangisan Yesus dalam teks hari ini memuat keprihatinan mendalam bagi (orang-orang) Yerusalem yang tidak juga membongkar ideologi mereka yang sudah sedemikian tercemar oleh oknum pemuka agama yang korup. Yerusalem benar-benar tak bisa menerima bahwa Allah yang nun jauh di sana itu sedang melawat dan hendak mencelikkan mata mereka supaya melihat bagaimana struktur korup mereka membutakan orang untuk berjumpa dengan Allah yang hendak merangkul seluruh umat-Nya tanpa kecuali.

Menilik keprihatinan-keprihatinan itu, rasanya kok gak tega membahas demo November 2016, terlalu jauh, dan bisa jadi malah merupakan bagian keprihatinan Ibu Pertiwi belakangan ini.

Tuhan, lindungilah bangsa kami dari tren pemecah belah dan mohon rahmat supaya kami mampu menebarkan benih keadilan-Mu bagi seluruh bangsa. Amin.

NB: Featured Image mengisahkan cerita ketika Elisabet hendak digeledah karena dicurigai kaum keluarganya bahwa ia membagi-bagikan roti kepada orang miskin. Elisabet agak takut karena ia memang membawa roti, tetapi kemudian ia menjawab,”Saya membawa bunga mawar.” Ketika betul digeledah, yang mereka dapati memang mawar-mawar segar.


KAMIS BIASA XXXIII
Pesta Wajib S. Elisabet dari Hungaria
17 November 2016

Why 5,1-10
Luk 19,41-44

Posting Kamis Biasa XXXIII B/1 Tahun 2015: Rebutan Mainan
Posting Kamis Biasa XXXIII Tahun 2014: Terus Aja Pelihara Dendam!

2 replies

  1. Ada suatu malam saya ngobrol dengan teman yang bekerja di sektor swasta Mo. Dari pembicaraan kami yang ngawur ngidul, kami juga saling berbagi kondisi lingkungan pekerjaan kami (saya di sektor pemerintah). Dari situ saya sadar, ternyata sektor swasta sama dengan sektor pemerintah, sama-sama korup. Dari atasan yang korup, yang sengsara bawahan. Bawahan harus pandai menutupi korupsi yang dilakukan oleh atasannya, kalau ketahuan atasan pusat teman saya ini bisa kena pemeriksaan juga. Walaupun teman saya bekerja tanpa unsur korup tapi mau tidak mau dia harus bermain dalam sistem korup. Sekedar share pengalaman Mo. Terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s