Motivator Busuk

Seorang novelis Italia abad XIX, Alessandro Manzoni, katanya pernah menulis wejangan kira-kira begini: Berempatilah pada kekhawatiran dan kebutuhan orang-orang di sekelilingmu. Hadiahkanlah kepada mereka terang yang engkau sendiri gak punya, kekuatan yang bukan milikmu, harapan yang kamu sendiri ragu-ragu terhadapnya, kepercayaan yang engkau sendiri tak meyakininya. Cerahkanlah mereka dari kegelapanmu. Perkayalah mereka dengan kemiskinanmu.

Wejangan itu mungkin bisa dikomentari,”Halo, kamu sehat? Kamu tahu artinya nemo dat quod non habet?” Ya, ya, ya. Bagaimana mungkin orang memberikan sesuatu yang bukan miliknya sendiri? “Wah, makasih banyak ya. Baik banget kamu kasih aku bingkisan ini. Kamu beli di mana?” “Oh, itu punya tetangga aku kok.”

Dibutuhkan suatu cara berpikir yang berbeda untuk mendapat makna dari wejangan Alessandro Manzoni. Barangkali cara berpikir itu juga yang bisa menjadi kerangka untuk mengungkap makna perumpamaan yang disodorkan Yesus hari ini. Tiga orang dititipi modal masing-masing sepuluh, lima, dan satu mina. Yang dititipi sepuluh dan lima mina melipatgandakan modal yang dimilikinya. Yang dititipi satu mina menyimpan modal itu karena ketakutannya sendiri mengenai Tuan yang dicapnya lalim. Alhasil, Tuan itu malah mengambil satu minanya dan diberikan kepada dia yang diberi modal sepuluh mina.

Perumpamaan ini tentu tidak bicara soal kapitalisme atau roh yang merasukinya, yang membuat pemilik modal jadi semakin kaya. Perumpamaan ini mempersoalkan mengapa si pemegang satu mina itu tak menggandakan modalnya. Ada yang macet. Satu-satunya perbedaan ketiga orang itu adalah kuantitas modal yang mereka punyai dan hasil akhirnya. Problemnya ialah bahwa penerima modal kecil ternyata tak berbuat apa-apa selain jadi kritikus terhadap Tuannya. Mosok ya mesti bernominal sepuluh dan lima dulu supaya orang bisa menggarap potensi yang dipercayakan padanya?

Menurut wejangan Alessandro Manzoni rupanya tidak begitu halnya. Juga dalam kemiskinannya, orang dapat memperkaya orang lain. Dari kegelapan hidupnya, orang bisa mencerahkan orang lain. Dari keraguannya, sikap seseorang bisa memantik harapan dalam diri orang lain. Lah, bagaimana itu? Mana mungkin orang bisa jadi motivator kalau ia sendiri tak yakin dengan apa yang disampaikannya? Lah, yang bilang gak yakin dengan apa yang disampaikannya juga siapa? Mohon baca ulang kalimatnya baik-baik, dan tak perlu memperkarakannya di pengadilan!

Ada orang yang dalam keraguannya toh tetap menentukan pilihan sikap yang jelas. Ada orang yang dalam kondisi miskinnya menunjukkan detachment tingkat tinggi. Ada orang yang dalam ketakutannya justru melakukan tindakan yang heroik. Proses di dalamnya itulah yang memperkaya, menginspirasi, memotivasi orang lain. Seorang miskin yang bekerja keras dengan gembira, tak banyak mengeluh, bebas dari ketakutan akan hidupnya yang serba susah, jauh lebih inspiratif daripada orang berduit, mantan bos besar, yang dihantui ketakutan untuk menyembunyikan tindak korupsinya. Seorang peragu dalam iman yang kerap resah dengan pertanyaan kritis dan toh tetap bertekun dalam tindakan orang beriman jauh lebih inspiratif daripada mereka yang sudah merasa yakin dengan kedalaman imannya sendiri dan merasa lebih baik dan benar daripada orang lain.

Tuhan, kuatkanlah kami untuk senantiasa memancarkan cahaya-Mu juga dalam situasi sulit kami.


RABU BIASA XXXIII
16 November 2016

Why 4,1-11
Luk 19,11-28

Posting Rabu Biasa XXXIII B/1 Tahun 2015: Jangan Mentang-mentang Kristen Ya!
Posting Rabu Biasa XXXIII Tahun 2014: Mengumbar Kerapuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s