Seek Ye First

Barangkali film Hacksaw Ridge bisa jadi bahan diskusi filsafat moral sebagai contoh suatu etika deontologis Immanuel Kant: apapun situasinya, kewajiban moral mesti dijalankan. Desmond Doss, karena pengalaman pahitnya dengan sang ayah, bernazar untuk tidak angkat senjata karena sadar betul bahwa membunuh itu dosa, juga selama dalam perang. Ada perubahan sih, sejak awal dia menegaskan I can’t touch a gun, tetapi sewaktu dia membantu atasannya di saat-saat akhir, ia mengambil senjata (meskipun bukan untuk membunuh). Saya tak tahu apakah tindakannya menangkis lemparan granat dan menendang granat lainnya termasuk tindakan menyelamatkan nyawa atau tindakan membunuh juga (karena saya tak tahu apakah granat itu lalu mengenai musuh dan musuhnya mati atau tidak).

Ini bukan wacana etika, tetapi film itu jelas menampilkan pergumulan protagonisnya mengenai prinsip yang diyakininya dan rupanya ia benar-benar mengambil sikap dan posisi yang jelas. Ini adalah petunjuk pada karakter yang berseberangan dengan kualitas yang dikritik oleh bacaan pertama hari ini: Jadi karena engkau suam-suam kuku dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku [hueksgitu]. Desmond Doss jauh dari suam-suam kuku atau hangat-hangat tahi lalat [kayaknya yang bener itu tahi ayam, Rom!]. Dia punya kerohanian yang kuat justru karena dia menampilkan diri apa adanya. Bagaimana dia menampilkan diri apa adanya itu? Ia mengikuti prinsip. Apa prinsipnya? Tidak menyentuh senjata? Tidak membunuh? Membaca Kitab Suci?

Barangkali banyak yang menjawab bahwa prinsipnya adalah ‘tidak membunuh’. Akan tetapi, itu masih bisa diperdebatkan, apalagi dalam situasi perang (misalnya membiarkan teman terbunuh apakah tidak juga berarti terlibat dalam pembunuhan atau soal granat tadi). Lucu dong kalau sebuah prinsip masih bisa diperdebatkan. Itu namanya bukan prinsip! Tentang prinsip, orang ‘menyerah’, tak bisa memberi penjelasan yang utuh mengenai ‘mengapa’-nya, tinggal ikuti saja. Apa yang dalam film Hacksaw Ridge memenuhi kriteria ‘tinggal ikuti saja’ itu?

Itulah sumber yang menggerakkan keyakinannya. Bukan pengalaman pahit bersama ayahnya, melainkan kerinduannya untuk mendengarkan suara Tuhan dalam batinnya. Tak selalu terdengar, memang; dan bagi kebanyakan orang umumnya malah tak terdengar sebagai suara alien, tetapi terungkap dalam dorongan batinnya sendiri. Desmond Doss setiap kali selesai menurunkan satu tentara, ingin menolong satu teman sampai 75 orang diselamatkannya. Keinginannya itu diserukan bukan kepada atasannya, tetapi dalam batinnya, kepada Allah sumber kekuatannya. Itulah prinsip! Pun kalau akhirnya ia tertembak mati setelah menyelamatkan 75 orang (termasuk tentara lawan), Desmond Doss tidak menentang prinsip yang diyakininya.

Kisah kecil berkenaan dengan prinsip itu juga disodorkan oleh bacaan Injil hari ini. The human heart seeks God. Zakheus tahu betul bahwa ia bergelimangan uang haram dan karenanya ia dijauhi dan dibenci bangsanya sendiri. Akan tetapi, Allah adalah Allah, dan Dia mau buat apa yang Dia mau buat. Ia berpesta dengan pendosa kelas berat ini. Tak usah tanya kenapa Allah mau hadir menjumpai pendosa kelas kakap karena jawabannya jelas: semua karena cinta hahaha.

Tuhan, maaf, bukan maksud kami menertawakan cinta-Mu, tapi kami memang konyol, mencari cinta-Mu dengan cara-cara aneh yang kadang malah merusak cinta-Mu. Ampunilah kami.


SELASA BIASA XXXIII
14 November 2016

Why 3,1-6.14-22
Luk 19,1-10

Posting Selasa Biasa XXXIII B/1 Tahun 2015: Life is Fragile
Posting Selasa Biasa XXXIII Tahun 2014: Berjumpa Kristus Ya Mestinya Happy

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s